Ciptakan Roti Ketela, Dewi Lestari Maju Seleksi Pemuda Pelopor Nasional 2017

Dewi Lestari dan produk inovasinya Rotela. KH/ Kandar.

PALIYAN, (KH),– Dewi Lestari (28), merupakan satu dari dua pemuda asal Gunungkidul yang lolos mengikuti seleksi pemuda pelopor hingga tingkat nasional tahun 2017 ini. Rabu, 27 September 2017 lalu dirinya menyambut visitasi tim penilai.

Sebagaimana diketahui, seleksi pemuda pelopor merupakan program rutin tahunan dari Kememtrian Pendidikan Pemuda dan Olahraga. Program ini diperuntukkan bagi pemuda berumur 16-30 tahun. Pemuda yang memiliki potensi berkesempatan untuk menunjukkan kepeloporannya pada salah satu bidang dari beberapa bidang yang diseleksi.

Di hadapan dewan juri Dewi menunjukkan kegiatannya pada bidang pangan, yakni mempelopori pembuatan roti berbahan ketela. Hasil karyanya merupakan sebuah inovasi baru dalam memanfaatkan bahan hasil pertanian lokal. Kegiatannya tersebut lolos seleksi pemuda pelopor dari tingkat Kabupaten hingga tingkat nasional.

“Kita tahu ketela atau singkong di Gunungkidul melimpah, namun harganya rendah. Jenis olahan yang ada juga masih belum optimal, disamping itu ragam olahan singkong yang beredar juga banyak dari luar daerah,” urai Dewi dihadapan dewan juri yang dipimpin Sugiyanta, S.E mengutarakan alasan dirinya membuat roti dari ketela.

Roti ia namakan Rotela, merupakan akronim dari roti ketela. Dalam pemaparan, dirinya mengaku mulai membuatnya pada Bulan April 2016 lalu. Bersama karangtaruna dan warga sekitar inovasi pembuatan Rotela menghasilkan produk kue berbahan singkong atau ketela parut tanpa campuran tepung.

Slogan yang ia usung dalam mengangkat produk buatannya yakni “Citarasa Tradisional”. Menurutnya nama itu mewakili ide gagasannya yang membuat kue ‘tradisional’ namun menghasilkan produk modern dan memiliki penampilan menarik.

Turut melakukan penyambutan tim juri, Staf Ahli Bidang Perekonomian Dan Pembangunan Pemkab Gunungkidul, drh. Krisna Berlian berharap tim juri memberikan apresiasi kepeloporan pemuda Gunungkidul secara obyektif.

“Inovasi olahan bidang pangan semacam ini semoga menjadi penggerak untuk mempopulerkan kembali citra makanan khas yang berbahan dasar dari pertanian asli Indonesia khususnya dari Gunungkidul,” harap Krisna.

Menurut Krisna, Dewi merupakan contoh figur yang jeli, mampu melihat kondisi kenyataan rendahnya nilai ekonomis hasil pertanian. Lantas mampu secara kreatif berinovasi memanfaatkan potensi demi kepentingan masyarakat banyak.

Pihaknya bangga kepada para pemuda Gunungkidul yang berhasil menunjukkan sikap dan kepeloporannya secara konsisten, sehingga patut mendapatkan apresiasi baik dari negara maupun masyarakat.

Sementara itu, selain Dewi, ada Sudiyanta pemuda asal Desa Kepek, Kecamatan Saptosari yang mempresentasikan kegiatannya di bidang pendidikan. Sudiyanta maju penilaian pemuda pelopor tingkat nasional atas inovasinya didunia literasi. Bersama karangtaruna desa setempat melalui Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dirinya berusaha mewujudkan program one home one library (satu rumah satu perpustakaan). (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar