Ciptakan Planetarium Bekam, Guru SD Raih Penghargaan Inobel Terbaik Nasional

Siswa SD praktek pembelajaran materi ritasi dan revolusi bumi menggunakan Planetarium Bekam. doc: Tri Agus Cahyono, M.Pd.
Siswa SD praktek pembelajaran materi rotasi dan revolusi bumi menggunakan Planetarium Bekam. doc: Tri Agus Cahyono, M.Pd.

TEPUS, (KH)— Dilatarbelakangi tidak maksimalnya globe konvensional sebagai media untuk pembelajaran mata pelajaran IPA pada materi rotasi dan revolusi bumi, Guru SDN Belik, Purwodadi, Tepus, Tri Agus Cahyono, M.Pd berinovasi menciptakan media pembelajaran berupa Planetarium Bekam.

Ketika pelaksanan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), ia sering menemui siswa tidak mempunyai antusiasme, seperti misalnya tidak memperhatikan ketika guru memberikan penjelasan, siswa juga kurang aktif merespon, tidak menunjukkan rasa ingin tahu,  serta tidak mau membaca dan memahami materi dari sumber belajar.

“Siswa jarang bertanya tentang materi yang sulit dan tidak mau mengutarakan pendapat saat berdiskusi. Bahkan, sebagian siswa melakukan aktifitas yang tidak sesuai kegiatan pembelajaran, seperti; melamun, berbicara sendiri, mencoret-coret buku, bermain dengan sembunyi-sembunyi, dan mengajak teman mengobrol,” ulas Agus mengungkapkan permasalahan umum yang dihadapi guru, Senin, (29/11/2016)

Dari permasalahan tersebut, siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi sehingga capaian prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA khususnya materi rotasi dan revolusi bumi tetap rendah, sehingga hal itu akan berdampak pada target sukses UN sekolah sulit dicapai.

Oleh karena itu, lanjut Agus, pembelajaran IPA perlu menggunakan media yang lebih inovatif, dari situlah kemudian ia memiliki ide dengan membuat Planetarium Bekam, media ini dapat dengan jelas memberikan gambaran materi rotasi dan revolusi bumi. Sebut Agus, tujuannya untuk meningkatkan motivasi sekaligus prestasi belajar siswa pada materi rotasi dan revolusi bumi.

Media Planetarium Bekam dibuat dengan mempelajari kelemahan dari media konvensional (globe) sebagai media pembelajaran materi rotasi dan revolusi bumi. Kelemahan globe salah satunya di mana siswa masih harus berfikir abstrak ketika menyamakan konsep antara dampak putaran bumi/globe ketika berotasi sehingga enyebabkan gerak semu harian matahari, hal itu tidak teramati langsung atau tidak bisa dihadirkan saat peragaan/demonstrasi dengan globe biasa.

Penampang Planetarium Bekam karya Tri Agus Cahyono, M. Pd.
Penampang Planetarium Bekam karya Tri Agus Cahyono, M. Pd.

“Untuk itu diperlukan media yang mampu memvisualisasikan gerakan rotasi bumi pada globe yang berdampak pada gerak semu harian matahari supaya dapat langsung teramati,” papar warga asli Pacitan ini. Rancangan karya inovasi dimulai dengan memodifikasi globe, dengan memasang sebuah kamera pada globe sebagai kamera pengintai pengganti posisi di bumi, kemudian dihubungkan ke laptop lantas diteruskan menggunakan layar LCD Proyektor untuk membuat sebuah tampilan seakan-akan siswa mengamati peristiwa rotasi dan revolusi bumi secara langsung, sekaligus melihat posisi model-model benda langit pada saat peristiwa tersebut terjadi, dengan media ini ia hadirkan planetarium mini di dalam kelas.

Manfaat yang paling mendasar, demikian disampaikan, anak dengan mudah memahami materi rotasi dan revolusi bumi, dengan kata lain, menjelaskan gerak semu matahari sekaligus pergeseran gerak semu matahari lebih mudah, dengan demikian apabila materi sulit sudah terpecahkan, anak akan termotivasi untuk belajar materi berikutnya.

Agar manfaat dari inovasi semakin meluas, atas permintaan beberapa pihak, Agus melakukan diseminasi karyanya tersebut pada tingkat gugus maupun kecamatan melalui Kelompok Kerja Guru (KKG), tak hanya itu karya inspiratifnya juga diikutkan dalam Lomba Inovasi Pembelajaran (Inobel) Guru SD Bidang MIPA Tingkat Nasional Tahun 2016.

“Dari seleksi peserta se Indonesia diambil 120 inovasi untuk dilakukan pengujian kemiripan (Similarity) dan Sitasi atau keaslian karya yang dilaksanakan di dua tempat, Bogor dan Bandung,” tambah Agus. Dari proses seleksi itu menyisakan 34 peserta lomba sebagai finalis yang diwajibkan mempresentasikan baik karya tulis sekaligus memperagakan karya inovasi.

Sambung dia, Pada tahapan terakhir benar-benar diuji apakah inovasi yang dibuat memiliki dampak nyata, dalam hal ini pengaruhnya terhadap motivasi dan pretasi belajar siswa. Merujuk fakta, adapun hasil yang diperoleh atas penerapan aplikasi praktis media Planetarium Bekam dapat meningkatkan motivasi yang berdampak positif terhadap performa siswa dalam pembelajaran.

Tri Agus Cahyono, M. Pd. memperoleh penghargaan terbaik nasional Lomba Inovasi Pembelajaran (Inobel) Guru SD Bidang MIPA Tingkat Nasional Tahun 2016.
Tri Agus Cahyono, M. Pd. memperoleh penghargaan terbaik nasional Lomba Inovasi Pembelajaran (Inobel) Guru SD Bidang MIPA Tingkat Nasional Tahun 2016.

Prestasi belajar IPA pada materi rotasi dan revolusi bumi dicontohkan pada siswa kelas VI mengalami peningkatan dengan rata-rata hasil ulangan 70.9, nilai ini mencapai target pencapaian indikator minimal sebesar 65. Hasil lain dari pembelajaran juga nampak pada prestasi belajar IPA secara keseluruhan yang mengalami peningkatan pada hasil ujian sekolah dengan nilai rata-rata mencapai 79.09.

“Saya bersyukur, pada kategori yang saya ikuti mendapat predikat terbaik nasional, mendapat penghargaan dan uang tunai Rp. 20 juta sekaligus sebuah laptop,” pungkas Agus. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar