Cerita Rekahnya Puncak Gunung Gambar Yang Direkatkan Pakai Air Gula Jawa

oleh
Retakan di Puncak Gunung Gambar yang berhasil ditutup dengan adonan semen dan air Gula jawa. KH/ Kandar.

NGAWEN, (KH),– Gempa yang terjadi di DIY tahun 2006 silam cukup dahsyat. Gempa bumi mengakibatkan korban jiwa, luka-luka, rusaknya pemukiman serta berbagai fasilitas umum lainnya. Tak terkecuali di Gunungkidul. Bahkan gempa mengakibatkan puncak Gunung Gambar yang berada di Kecamatan Ngawen mengalami rekah.

Retakan terjadi di sisi timur bukit yang dijadikan kawasan wisata religi itu. Tokoh warga, Sutrisna didampingi salah satu pemuda, Susilo menyebutkan, rekahan membentang dari selatan ke utara. Tepatnya di sekitar batu ‘Kong’. Batu berbentuk lekukan Bokong atau pantat. Konon merupakan tempat duduk Pangeran Samber Nyawa saat menyusun strategi atau menggambar skema perang.

“Lebar retakan di beberapa titik mencapai 10-an centi meter, sementara panjang retakan sekitar 8 meter,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Bongkahan batuan pada bukit tersebut dinilai sangat berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Dikhawatirkan retakan semakin lebar sehingga beresiko runtuh. Padahal di bawah bukit terdapat pemukiman warga.

Sambung Sutrisna, masyarakat setempat kemudian berniat menutup retakan agar tidak semakin menjadi. Warga lantas bergotong royong menutup dan merekatkan retakan dengan adonan semen sekaligus dipasangi besi.

“Setiap adonan semen dituangkan ke dalam retakan langsung habis masuk ke dalam. Dilakukan terus menerus tidak pernah menutup permukaan retakan,” tutur Sutrisna.

Warga merasa bingung hendak menutup retakan tersebut dengan cara apa. Sutrisna lantas berniat mencari petunjuk. Berdoa dan menyendiri. Dirinya mengaku mendapar wisik atau petunjuk. Retakan tersebut dapat ditutup jika adonan semen dicampur dengan ‘Kelang’. Yakni air larutan Gula Jawa.

Aneh memang. Jauh dari kata rasional. Tetapi warga melaksanakan petunjuk yang diterima Sutrisna tersebut. Faktanya, campuran adonan semen dan air gula berhasil menutup retakan. Rekahan memanjang di bongkahan batu besar di atas bukit tertutup rapat dan diyakini mengurangi resiko longsor.

Sutrisna menambahkan, untuk menutup seluruh retakan warga menghabiskan 34 kilogram Gula Jawa. Ditanya lebih jauh, Sutrisna tidak dapat berkomentar banyak mengenai tinjauan secara ilmiah hubungan antara adonan semen dan air Gula Jawa. (Kandar)

Komentar

Komentar