Bupati Kagum Dengan Gelaran Rasul Gubug Gedhe Desa Ngalang

oleh
Peserta kirab Rasul tiba di rest area Gubug Gedhe. KH
Peserta kirab Rasul tiba di rest area Gubug Gedhe. KH
Peserta kirab Rasul tiba di rest area Gubug Gedhe. KH

GEDANGSARI, (KH)— Bupati Gunungkidul, Badingah beserta Kepala Dinas Kebudayaan dan kepariwisataan (Disbudpar) Gunungkidul, Dewan Budaya DIY, dan Dewan Budaya Gunungkidul menyambut kedatangan arak-arakan masyarakat dari 14 padukuhan se Desa Ngalang di pintu gerbang rest area dalam rangka pelaksanaan tradisi Rasul Gubug Gedhe, Minggu, (31/7/2016).

Disampaikan Kabag Kesra Desa Ngalang, Eko Sutardi, sekitar 2000 lebih masyarakat terbagi kedalam rombongan kelompok unsur kelembagaan dusun meliputi RT, RW, LPMP, PKK, dan kelompok kesenian, kelompok tani dan lainnya.

“Masing-masing dusun disertai kelompok kesenian berupa Jathil, Reog, Terbangan atau Sholawat, Thoklik, drumband dan penari,” kata Eko seusai acara.

Sebanyak 14 gunungan hasil bumi dan pernak-pernik kreativitas yang dibuat masing-masing padukuhan  dilepas oleh pemangku adat Desa Ngalang, Muh Satdijan bersama Kaderi, Kades setempat sekitar pukul 08.30 WIB.

Kemudian kirab masyarakat mengular sepanjang 1 kilometer itu perlahan menuju lapangan Gubug Gedhe dimana Gubug besar berukuran 16 x 20 meter berada. Bupati mengaku kagum dengan gelaran tradisi ini. Dalam sambutan ia menyampaikan selamat serta turut bangga atas pelaksanaan upacara adat rasul Gubug Gedhe Desa Ngalang tahun 2016.

“Diantara beberapa upacara Rasul yang kami hadiri belum pernah ada partisipasi masyarakat se masif dan antusias seperti di sini,” katanya bangga.

Ia meminta agar upacara Rasul Gubug Gedhe dilestarikan, selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan diharapkan menjadi salah satu tujuan wisata budaya di Gunungkidul. Untuk diketahui bahwa Rasul Gubug Gedhe ini sudah masuk calender of event Disbudpar Gunungkidul sejak tahun 2007.

Sementara itu Kepala Desa Ngalang, Kaderi memamparkan bahwasanya Rasul Gubug Gedhe adalah upacara adat warisan leluhur yang terus dijaga, dikembangkan dan dilestarikan. Dikarenakan prosesi rasul sebagai simbol kegotongroyongan, persatuan dan kesatuan warga masyarakat dari 14 Padukuhan yang ada di Desa Ngalang.

“Sebagai bentuk rasa syukur seluruh masyarakat atas berbagai anugrahNya, mudah-mudahan bersama Rasul Gubug Gedhe dapat menjadi pemecut semangat warga masyarakat untuk bekerja, berkarya mencukupi kebutuhan keluarga dan membangun desa,” urai Kaderi.

Untuk diketahui rangkaian acara perayaan rasul atau Nyadran ini diawali pagelaran budaya yang menampilkan 14 kelompok kesenian unggulan se-Desa Ngalang, dari tgl 25 s/d 29 juli 2016. Kemudian pada malam puncaknya diakhiri pagelaran wayang kulit dengan Dhalang Ki Supartono.

Ketua panitia, Sumijo menambahkan, tradisi Gubug Gedhe pernah menorehkan prestasi membanggakan, yakni sebagai penampil terbaik pada festival Bentara upacara adat tingkat DIY tahun 2014.

“Pernah juga menjadi Juara harapan I, work shop upacara adat se DIY-Jateng dan Jatim tahun 2012 di hotel Satya Graha Yogya. Yang menjadi tokoh cikal bakal Rasul  Gubug Gedhe ini adalah Eyang Meles atau Haryo Bangah, ia adalah punggawa mMajapahit dimasa Prabu Brawijaya ke V,” terang Sumijo. (Kandar)

Komentar

Komentar