BPTP Monitoring Budi Daya Kedelai Bawah Naungan Di Playen

oleh
Monitoring budidaya kedelai bawah naungan. foto: istimewa.

PLAYEN, (KH),– Mendapat dampingan dan bantuan paket teknologi Budi Daya Kedelai Bawah Naungan atau Budena dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta, Kelompok tani Sedyo Maju Desa Bleberan, Kecamatan Playen mengembangkan 4 varietas kedelai.

Minggu ini, budidaya kedelai di bawah naungan tersebut ditinjau dari BPTP DIY, diantaranya Prof. Dr. Bambang Sutaryo, dan tim. Menyertai kunjungan turut hadir Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Ir. Bambang Wisnu Broto, Kepala Bidang Tanaman Pangan Ir. Raharjo Yuwono, MM., dan sejumlah perwakilan dari institusi terkait.

Ir. Bambang Wisnu Broto menyampaikan, berdasar hasil pengamatan, dari 4 varietas kedelai yang dikaji, Dena-1 memberikan keragaan yang terbaik dibandingkan dengan Dega, Anjasmoro dan Grobogan.

“Varietas Dena-1 telah berumur 55 hari sangat vigourus, telah membentuk polong dan pengisian biji,” kata Bambang.

Dirinya berharap lokasi Budena bisa menjadi percontohan penanaman kedelai bahwa kedelai bisa tumbuh subur di Gunungkidul serta menguntungkan sehingga banyak petani yang tertarik membudidayakannya.

Sementara, menurut Ketua Kelompok Tani Sedyo Maju, Jumikir, keragaan kedelai tahan naungan yang dikembangkan rata-rata memiliki 40 kepek (buah kedelai). Jadi dengan asumsi 1 buah kedelai ada yang memiliki satu, dua dan tiga polong maka potensi polong per pohon antara 60-70 polong.

Jumikir menambahkan, bahwa keragaan kedelai ini sangat mengejutkannya karena tinggi tanaman mencapai 1 meter.

Diperkirakan pada awal bulan Mei akan dilakukan panen raya. Untuk itu agar keragaan tanaman tetap baik, pengamatan dan pemeliharaan tanaman terus dilakukan.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua BPTP, juga berharap bahwa kedelai Gunungkidul bisa dibudidayakan sebagai tananan penyela sehingga meningkatkan minat petani membudidayakan kedelai. “Harapannya lokasi Budena bisa panen raya pada awal Mei sembari dilaksanakan temu lapang,” tukas Prof. Dr. Bambang Sutaryo. (Kandar).

Komentar

Komentar