BPAD DIY Ingin Perpusdes Menjadi Penggerak Pembangunan Masyarakat

Stakeholder meeting antara BPAD DIY, KPAD Gunungkidul, dan 14 Perpusdes serta mitra pendamping. KH/ Kandar.
Stakeholder meeting antara BPAD DIY, KPAD Gunungkidul, dan 14 Perpusdes serta mitra pendamping. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH)— Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY sangat berharap bahwa keberadaan Perpustakaan Desa (Perpusdes) dapat menjadi penggerak dan pendorong pembangunan masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan Anang Fitrianto, Penanggungjawab Program Perpuseru DIY dalam sebuah acara Stakeholder meeting yang diselenggarakan Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD), Kamis, (27/10/2016).

Dalam forum tersebut, dihadiri 14 Perpusdes mitra program Perpuseru, dan lembaga atau komunitas sebagai partner seperti; Microsoft, Yayasan Cinta Anak Bangsa, Yayasan Sedekah Ilmu, PLUT Yogyakarta, Forum Anak Gunungkidul dan lainnya.

Anang mengatakan, BPAD DIY akan meminta data mengenai kondisi Perpusdes yang telah berjalan, apabila ada beberapa Perpusdes yang kondisinya dinilai terlalu timpang atau memiliki banyak kendala dalam penyelenggaraannya dibanding yang lain, BPAD DIY siap membantu.

Sementara itu Kepala KPAD Gunungkidul, Ali Ridlo MM menegaskan perlunya konsistensi Pemdes demi maju serta berkembangnya perpusdes sehingga keberadaannya memberikan manfaat nyata. Bukti mengenai konsistensi itu telah dicontohkan oleh Desa Kepek, Saptosari.

“Konsistensi kebijakan dilakukan oleh Desa Kepek Saptosari, pada Tahun 2016, dari Pagu APBDes sebanyak Rp. 1.605.944.172 dialokasikan untuk perpustakaan sebanyak Rp. 48. 553. 000, masih ditambah lagi dengan tanah garapan senilai Rp. 6. 562.500,” rinci Ali Ridlo.

Sehingga impact yang diperoleh oleh masyarakat benar-benar ada, dan mendorong pertumbuhan serta dapat meningkatan ekonomi. Beberapa kegiatan yang telah terlaksana melalui Perpusdes ‘Berseri’ itu antara lain; pelatihan komputer dasar dan internet gratis, pelatihan ibu-ibu membuat olahan pangan berbahan papaya (abon dan crispy papaya), Pare (Keripik), Ketan (Brownies ketan), dan berhasil menciptakan 30 jenis olahan pangan lainnya.

“Selain itu dapat terlaksana pelatihan pembuatan bros berbahan kain perca, pelatihan sablon, pelatihan jahit tas, pelatihan pembuatan pupuk granul dan pelatihan rias pengantin serta masih banyak lagi,” paparnya.

Perwakilan Microsoft Indonesia, Ester Sianita sebagai salah satu stakeholder atau mitra pendamping mengutarakan, pihaknya selama ini telah berupaya memberdayakan anak muda putus sekolah untuk belajar teknologi dari Microsoft sehingga mereka memiliki masa depan.

“kita juga akan berupaya terus memberikan bantuan dan dukungan kepada Perpusdes binaan untuk mengoptimalkan manfaat dari teknologi, dan memberikan edukasi kepada orang tua dan staf perpusdes agar melek teknologi,” terang Ester. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar