Bowo Dava: Sebelum Sukses Pernah Kerja Kuli Bangunan Dan Serabutan

oleh
Bowo Dava (berkacamata hitam) bersama rekannya Ozi. KH/ Kandar.

GUNUNGKIDUL, (KH),– Sedikit yang tahu, bahwa keberhasilan yang dicapai seseorang melewati peristiwa-peristiwa berat. Bahkan tak jarang banyak yang menilai kesuksesan seseorang dikaitkan dengan kemapanan ekonomi orang tua. Tetapi tidak dengan Bowo Sutrisno, lelaki kelahiran 4 januari 1981 ini. Ia mengaku membangun bisnis jual beli handphone dari nol.

Ditemui beberapa waktu lalu, lelaki asal Padukuhan Kedongpoh Kulon, Desa Kedungpoh, Kecamatan Nglipar ini berkisah, kisaran tahun 2002/2003 dirinya masih ganti-ganti jenis usaha dan pekerjaan.

“Saya pernah kerja kuli bangunan, jualan pete, sopir angkut gaplek, jual beli gaplek dan jualan keliling apa saja,” kenang lelaki yang akrab disapa Bowo Dava ini.

Dirinya tak menampik pernah memiliki kebiasaan negatif, yakni hobi berjudi. Kebiasaan itu diakui membuat berbagai usahanya stagnan. Ditengah kerja serabutan, ia melirik usaha jualan pulsa untuk mengisi hari minggu. Dibukalah ruko kecil di daerah Nglipar. Modal yang digunakan yakni fee menjual mobil milik orang lain. Bermodal jujur ia dipercaya menjadi makelar penjualan beberapa mobil.

Hasil makelar menjual beberapa mobil yang dikumpulkan mencapai Rp. 3 jutaan. Uang itulah yang ia gunakan modal untuk menjual pulsa. Jika diingat, awal mula Bowo menjual pulsa disertai peristiwa-peristiwa yang  membuat geli. Di depan kios ia menjual pulsa tidak ada jaringan sinyal. Justru di bagian belakang/dapur sinyal dapat muncul.

“Sehingga tiap isi pulsa harus ke dapur dulu,” ujar Bowo sambil tertawa. Gigih ia mengumpulkan hasil jualan pulsa selama bertahun-tahun. Setelah ia memegang uang mencapai sekitar Rp. 15 juta niat memulai bisnis baru muncul, yakni jual beli handphone.

Ia kemudian dikenalkan dengan saudara dari kakak orang tuanya yang menjadi karyawan di gerai ITC Roxy Square Jakarta Barat. Sebuah pusat perbelanjaan telepon seluler. Dengan modal uang Rp. 15 juta, Bowo berangkat ke Jakarta secara gratisan. Lelaki tiga anak ini tidak malu nebeng truk yang hendak mengirim kayu ke Jakarta.

Sembari belanja pulsa, handphone yang dibawa pulang dari Jakarta lantas dijual secara keliling di toko-toko atau counter kecil di Wonosari. Awal-awal dilakukan belum banyak yang merespon. Sebagian masih ragu menjual handphone.

“Kemudian pada tahun 2008 dari hasil jualan HP keliling saya berani kontrak ruko di Wonosari, tepatnya di selatan Toko Istana jl. Sumarwi,” sambung pria yang hobi motor trail ini.

Dari ruko pertama itu, usaha jual beli telepon seluler Bowo semakin berkembang. Momentum dinilai tepat. HP TV periode pertama yang ia jual cukup laris. Hingga kemudian ia membuka ruko baru. Masih di jalan Sumarwi toko HP yang lebih besar  dibuka pada tahun 2009. Bahkan tak hanya seputar handphone, 2012 silam dirinya membuka toko IT. Menjual laptop, kamera dan beraneka alat elektronik lainnya. Hingga saat ini ia memiliki 4 toko handphone dan IT. 1 di jl Nglipar-Ngawen, dan sisanya di Wonosari.

Baginya, keberhasilan cukup ditentukan oleh do’a, kerja keras, dan pantang menyerah. Modal berbentuk uang menjadi nomor belakangan. Menurutnya, saat ini peluang usaha diberbagai bidang masih terbuka sangat lebar. Terlebih adanya dukungan kemajuan teknologi informasi yang pesat. Dibanding era sebelumnya, pilihan jenis wirausaha lebih banyak yang  bisa dipilih.

Pada tahap pencapaian ini Bowo Dava mengaku sangat bersyukur. Tidak jarang ungkapan syukur diekspresikan melalui kegiatan baksos. Bersama komunitas trail dirinya berulang kali menggelar kegiatan sembari mengumpulkan donasi untuk disumbangkan guna pembangunan sarana ibadah atau fasilitas umum. (Kandar)

Komentar

Komentar