Besih Dusun Padukuhan Gebluk: Membumikan Kembali Aksara Jawa

Kirab bersih dusun Padukuhan Gebluk, Desa Kenteng, Ponjong mengangkat tema ‘membumikan kembali aksara jawa’. KH/ Hari.

PONJONG, (KH),– Dalam rangka bersih dusun, Padukuhan Gebluk, Desa Kenteng, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul, Minggu, (3/9/2017) menggelar kegiatan Seni Budaya ‘Srikandi’ dengan tema ‘Membumikan Aksara Jawa’. Kegiatan tersebut bertempat di Balai Desa Kenteng.

Ketua panitia kegiatan, Hiwan Gunawan memaparkan, kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka bersih dusun yakni ungkapan syukur atas panen raya petani. Segenap rangkaian kegiatan telah dilaksanakan sejak hari Sabtu (2/9) lalu. Dimulai pementasan Seni Terbangan dilanjut dengan pentas ketoprak dari kumpulan seniman Yogyakarta. Lantas hari berikutnya, Minggu, (3/9) sejak pagi dipentaskan semua potensi seni budaya yang ada di Desa kenteng. Diantaranya; jathilan, toklik, drum band, dan gejok lesung.

“Pada kegiatan kirab budaya diikuti oleh perangkat desa, karang taruna serta masyarakat Padukuhan Gebluk.  Turut menyertai beberapa peserta hadir dari padukuhan lain. Kegiatan ini sebagai bentuk dukungan dan harapan Desa Kenteng kelak menjadi desa rintisan budaya,” imbuh Hiwan.

Bersamaan dalam rangkaian kegiatan bersih dusun, juga diadakan peresmian Tugu Aksara Jawa oleh salah satu pemerhati seni budaya di Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih.

Endah menjelaskan, peresmian tugu aksara jawa merupakan upaya melestarikan kearifan lokal. Masyarakat setempat berniat melalui berbagai gerakan membumikan kembali aksara jawa, agar dekat dan akrab dan hadir dalam keseharian masyarakat.

Tujuannya, mengingatkan kepada seluruh masyarakat Gunungkidul tentang aksara jawa. Sebagaimana diketahui bahasa keseharian masyarakat Gunungkidul ialah bahasa jawa, akan tetapi banyak dari masyarakat sudah lupa dengan keberadaan aksara jawa.

“Salah satu contoh wujud nyata dari gerakan ini adalah penulisan papan nama berbagai lembaga atau instansi di Desa Kenteng disertai dengan penggunaan aksara jawa,” terang Endah.

Instansi meliputi sekolahan, kantor desa, dan juga papan penunjuk arah. Selain papan nama, pembuatan umbul- umbul atau panji yang bertuliskan Gunungkidul Handayani juga akan menggunakan aksara jawa. Harapannya, ketika warga termasuk diantarannya pelajar ada yang melihat tulisan tersebut secara tidak langsung mereka belajar kembali bagaimana membaca atau menulis aksara jawa.

Endah mengingatkan, melestarikan budaya lokal tidak sebatas perhatian terhadap berbagai seni pertunjukan atau pementasan saja. Memberikan edukasi tentang aksara jawa kepada seluruh masyarakat di Gunungkidul menurutnya juga tidak kalah penting. (Hari)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar