Berkumpul Sesama Perantau; Pengganti Tidak Bisa Mudik

oleh
Berlebaran di ibukota. Dok: Jawapos.

BEKASI, (KH).- Mudik berkumpul dengan keluarga pada hari raya Idul Fitri menjadi dambaan para perantau. Namun, tidak semua pekerja rantau bisa mudik ke kampung halamannya karena berbagai hal. Ada yang mesti harus masuk kerja di saat yang lainnya bisa berlibur. Ada yang karena sakit atau menunggui anggota keluarganya, Ada yang belum memperoleh jatah cuti. Ada yang tidak mudik karena sangunya tidak cukup, dan aneka hal lainnya.

Mereka yang tidak mudik lantas tidak larut menghabiskan waktu dengan kesedihan. Seperti yang dialami Inug (34), pemilik nama lengkap Widiarto Nugroho ini telah memiliki acara kumpul-kumpul bareng dengan para perantau asal Gunungkidul yang tidak mudik.

Perantau asal Dusun Karangtengah II, Desa Karangtengah Wonosari yang tinggal di Pondok Gede Bekasi ini telah merantau di Jakarta lebih dari 1 tahun. Namun ia baru saja pindah kerja, sehingga belum mendapat jatah cuti sebagaimana normalnya peraturan kerja. Karena itu, Inug mengganti kerinduan berkumpul bersama keluarga di kampung halaman dengan berkumpul dengan rekan-rekannya sesama perantau yang tidak mudik.

“Bapak saha Ibu, nyuwun gunging pangaksami, keng putra tahun ini belum bisa mudik lebaran bersama di rumah tercinta,” ujar Inug yang ditumpahkan kepada KH sebagai uneg-uneg dari dirinya yang tidak bisa mudik lebaran bersama keluarga.

“Melihat teman-teman dan saudara perantau yang sudah berada di kampung, jujur saya merasa meri, merasa kepingin, tapi kenyataannya saya belum bisa mudik karena kondisi pekerjaan,” ujar Inug. Ia berusaha tabah. Menurutnya, segala sesuatu itu sudah Tuhan yang atur. Karena itulah, ia memutuskan untuk berlebaran tetap di perantauan.

Menurut Inug, mudahnya komunikasi melalui media sosial, juga menjadi jembatan komunikasi dengan teman-temannya yang di kampung. Ia mengungkapkan, pertanyaan teman-teman di kampung mulai pertengahan puasa adalah kapan mau mudik. Untuk menjawab pertanyaan itu, Inug memiliki jurus, “Besok nek aku wes neng ngomah tak kabari….”

Secara jujur, ia sangat merindukan kebersamaan teman-teman di kampung halaman yg khas dengan Gunungkidulnya, seperti: mbakar telo neng kebon, golek yuyu (kepiting) untuk nyambel bawang, dan sebagainya.

Komentar

Komentar