Berhasil Panen Jagung Saat Kemarau, Petani Untung Rp. 15 Juta Tiap hektar

oleh
Panen jagung di Desa Wareng, Kecamatan Wonosari. KH/ Kandar.
Panen jagung di Desa Wareng, Kecamatan Wonosari. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH),– Petani di Desa Wareng Kecamatan Wonosari meraup untung berlipat berkat panen jagung pada musim kemarau. Sebab, selain  biji jagung, harga batang jagung untuk Hijauan Pakan Ternak  (HPT) juga cukup baik.

Hal tersebut diungkapkan penanggungjawab kegiatan pengkajian penanaman jagung pada musim tanam III, dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta, Ir Mulyadi MSP usai kegiatan Temu Lapang Panen Jagung di bulak Lor, Polaman, Wareng, Gunungkidul, Jum’at, (28/9/2018).

Menurutnya, kegiatan pengkajian dan demonstrasi budidaya tanaman jagung pada musim tanam III atau musim kemarau cukup berhasil. Diungkapkan, inovasi teknologi yang diterapkan yakni sistem tanam jagung doble row atau baris ganda. Selain itu juga dilakukan pemupukan sesuai dengan spesifikasi tanah serta penggunaan arang sekam.

”Arang sekam diberikan sebanyak 2 ton per hektar, kegunaannya untuk memperbaiki struktur tanah agar kemampuan menyerap dan menyimpan air lebih baik,” terang Mulyadi. Selain itu, arang sekam juga meminimalisir penggunaan pupuk kimia.

Lebih jauh disampaikan, teknologi tersebut merupakan terobosan baru di wilayah setempat. Sebelumnya di kawasan tersebut pada musim kemarau tidak bisa ditanami jagung, sebab tidak diupayakan optimalisasi ketersediaan sumber air. Padahal wilayah yang berada di barat daya Kecamatan Wonosari ini memiliki potensi sumber air sumur dangkal.

“Dengan adanya optimalisasi sumber air dangkal dari sumur pompa memungkinkan untuk memberikan irigasi,” sambung Mulyadi.

Dalam kesempatan yang sama, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Wareng, Juminah menyebutkan, keuntungan petani saat panen jagung pada musim tanam III cukup besar. Dari analisis hasil yang dilakukan, untuk tiap hektar petani mampu meraup untung sebanyak Rp. 15 jutaan.

“Biaya benih, pupuk, pengairan, tenaga kerja serta biaya angkut menghabiskan biaya sekitar Rp. 18 juta,” ungkapnya. Sementara dari hasil ubinan, dalam satu hektar dihasilkan 6,77 ton jagung kering. Dengan harga jagung yang mencapai Rp. 4.200 tiap kilogram, maka petani memperoleh hasil Rp. 28.434.000.

Di luar itu, harga batang jagung saat ini dalam kondisi yang cukup baik. Batang jagung atau tebon seluas satu hektar jika dijual dapat laku senilai Rp. 5 juta. “Jadi untungnya sekitar Rp. 15 jutaan,” tukas Juminah. (Kandar)

Komentar

Komentar