Berawal dari Membaca, Pemuda Emil Putuskan Menjadi Petani

Emil memeriksa tanaman cabe miliknya. Foto : Gemma
Emil memeriksa tanaman cabe miliknya. Foto : Gemma

SEMIN, (KH) — Pada saat ini menjadi seorang petani mungkin sudah tidak diminati lagi bagi sebagian orang, terutama bagi para pemuda. Banyak para pemuda yang lebih menggantungkan nasibnya di kota besar; bekerja di kantoran, atau menjadi buruh di suatu perusahaan. Berbeda dengan para pemuda pada umumnya, seorang pemuda dari Desa Bendung, Semin, Gunungkidul, memutuskan menjadi petani.

Emil, begitu ia disapa; seorang pemuda asal Temanggung yang kini berdomisili di Desa Bendung, Kecamatan Semin, pantang menyerah untuk mengais rejeki di pedesaan. Sebelumnya Emil bersama istrinya bekerja sebagai buruh di sebuah toko di Semarang.

“Karena tidak cocok dengan pendapatan, kami memutuskan tinggal di Gunungkidul,” ungkap Emil di sela-sela kesibukannya memeriksa tanaman saat ditemui Kabarhandayani pada Sabtu (28/02/2015).

Emil mengaku, setelah tinggal di Gunungkidul ia sempat satu bulan tidak bekerja. Kemudian Emil dan istri putar otak, mencari cara agar tetap dapat menafkahi keluarga. Mereka mencoba untuk mendatangi perpustakaan di dekat rumahnya, yaitu Perpustakaan Ngupoyo Pinter, milik Suparno.

“Sudah hampir satu bulan tidak bekerja, lalu mikir-mikir. Atas inisiatif sendiri kami memutuskan untuk pergi ke perpustakaannya pak Parno. Sesampainya di perpustakaan saya masih bingung mau baca apa. Megang buku kisah nabi, tapi bingung, untuk kerjaan itu bagaimana. Akhirnya kita mengambil buku berjudul siputri hijau, agribisnis hortikultura,” ungkapnya.

Emil yang hanya tamat di bangku SLTP, mengaku, dulu ia sering dimarahi orangtuanya karena ia malas-malasan. Kini ia membuktikan kepada orangtuanya bahwa ia gigih untuk menjadi seorang petani yang sukses. Orangtuanya yang berada di Temanggung, sempat meragukan kemampuannya dalam bertani.

“Tadinya saya ndak bisa apa-apa.. mamak saya datang langsung dari Temanggung ke sini untuk membuktikan, saking ndak percayanya dengan kemampuan saya bisa menanam cabai,” tuturnya.

Lahan yang digunakan Emil untuk bertani ini merupakan lahan milik sendiri dan sebagian milik kas desa. Bapak dua anak ini memanfaatkan lahan untuk ditanam berbagai macam hortikultura, seperti cabai, mentimun, kangkung, terong. Setiap musim panen, ia mengaku bisa memproleh 35-40 kilogram cabai. Kemudian untuk kangkung sekali panen mendapatkan 400-450 ribu rupiah. Pendapatannya bisa mencapai sekitar dua juta rupiah perbulan.

Keberadaan perpustakaan memberikan manfaat tersendiri untuk Emil. Dengan membaca buku di perpustakaan, kini ia memiliki profesi sebagai petani untuk menafkahi keluarganya. Kemudian dengan memanfaatkan internet di perpustakaan, ia dapat bertukar pikiran dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama di bidang hortikultura.

“Kita lihat di facebook, trus banyak yang ngasih komentar, ngasih saran, lha, kita ngambil kiat-kiat untuk merawat hasil pertanian kita dari yang paling banyak digunakan beberapa orang. Komentar dari orang-orang kita kumpulkan, mana yang paling banyak saran yang sama kita ambil sebagai acuan. Kemudian kita mempraktikkan, ternyata hasilnya sama,” katanya.

Ketika ditanya tentang dukanya menjadi seorang petani, ia mengeluhkan pendistribusian hasil panenannya masih menjadi kendala.

“Nah, itu kendala kami di sini. Cari juragan sayuran yang besar, karena kami panennya kapasitas besar sehingga cukup sulit untuk mencari juragan yang mau membeli panenan kita. Biasanya yang mau membeli rata-rata kalau cabai ya 5 kilo.. padahal punya kita ini minim 35-40 kilo,” keluhnya.

Emil yang kini berumur 32 tahun, menegaskan bahwa ia akan konsisten menjadi petani hortikultura.
“Kan, kebanyakan orang-orang masuk sebagai petani hortikultura, lalu di pertengahan berhenti. Nek saya sekali jalan, lurus aja. fokus di situ,” Pungkasnya. (Gemma/Tty)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar