Beladega Siaga Bencana, Bekali Anak Lebih Dini Hadapi Bencana

Simulasi bencana oleh anak-anak BELADEGA Desa Gari, Wonosari. KH

WONOSARI, (KH),— Gunungkidul merupakan daerah rawan bencana alam. Salah satu diantaranya bencana alam gempa bumi. Selain itu kasus kebakaran yang diakibatkan oleh kekuranghati-hatian kerap kali terjadi di area rumah.

Dalam keadaan tersebut secara umum anak-anak yang belum mengetahui cara menyikapi jika bencana terjadi, biasanya akan menangis, menjerit, dan ketakutan.

Menyikapi hal tersebut, Karang Taruna Mekar Pandega Desa Gari, Wonosari melalui BELADEGA (Belajar Asyik Desa Gari)  menyelenggarakan kegiatan berbasis simulasi dalam “Beladega Siaga Bencana” yang dilaksanakan pada Minggu, (22/ 10/ 2017).

Salah satu koordinator kegiatan, Fatikha mengatakan, kegiatan ini bertujuan memberi bekal dan pengetahuan kepada anak-anak secara lebih dini untuk menghadapi bencana alam, khususnya gempa bumi dan kebakaran, serta melatih mental mereka dengan sikap yang cerdas dan tenang.

“Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengantisipasi jatuhnya korban apabila terjadi bencana alam pada anak-anak dengan cara survive dalam melindungi diri serta menolong orang lain,” tutur Fatikha.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan pemberian materi dari PMI Kabupaten Gunungkidul tentang bencana alam serta cara menyikapinya. Selanjutnya anak-anak diajak untuk berperan dalam simulasi bencana alam gempa bumi dan kebakaran dengan pengelompokan di berbagai lingkungan, yaitu lingkungan rumah, ruangan terbuka, sekolah dan tempat umum.

“Pembagian simulasi bencana berdasar lingkungan tersebut bertujuan untuk melatih anak-anak di segala situasi dan dengan cara yang berbeda-beda,” imbuh Fatikha.

Dalam simulasi siang tadi nampak kepanikan anak-anak seusai bencana gempa bumi kembali terjadi saat bencana susulan yaitu kebakaran terjadi. Pada saat itu juga anak-anak dihadapkan dengan situasi banyaknya korban yang histeris dan luka-luka yang harus segera mereka tolong. Untuk mengatasinya anak-anak dibagi dalam tugas penyelamatan korban serta memadamkan kebakaran.

Berdasar pantauan, anak-anak begitu bersemangat dalam mengikuti simulasi. Sebanyak 161 anak masing-masing melaksanakan peran sebagaimana arahan koordinator. Pelaksanaan simulasi berjalan sepertihalnya saat bencana benar-benar terjadi.

Ada yang menjerit histeris dan menangis sebagai korban, ada yang menjadi penolong dengan sikap berani mengevakuasi teman mereka yang mengalami luka-luka. Sementara sebagian dengan cekatan memadamkan api saat terjadi kebakaran. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar