Batas

Jembatan Gantung di Jurug Gede utara Gunung Nglanggeran. KH/Klepu.
Jembatan Gantung di Jurug Gede utara Gunung Nglanggeran. KH/Klepu.

Kreteg gantung, jembatan gantung di dekat Curug Gede sebelah utara Gunung Nglanggeran itulah tanda perbatasan Gunungkidul Sleman. Beberapa remaja berseragam mencoba mendalami sebuah kali, sebagai batas teritori; dengan tatapan. Barangkali kedalaman kali tiada terkira oleh mereka, mau setajam apa mata menembus, seperti halnya batas suatu wilayah bagi dua kabupaten ini: kreteg gantung di atas sebuah kali yang tak terukur tingkat goyangannya jika dilewati. Di sekitar Curug Gedhe.

Batas suatu wilayah, biasanya, adalah garis imajiner yang berupa kali, gunung, jurang, persawahan, tegalan, hutan dan sebagainya. Batas imajiner sebuah kabupaten dengan kabupaten lain yang dicoba dijelaskan, ditegaskan, oleh manusia yang dalam kartografi berupa garis strip-titik ( _._._._. ) berkelok, tampaknya tak mampu benar-benar menjelaskan batas identitas warganya, namun semakin menambah remang identitas tentang kewargaan itu. (Dan sampai saat ini tak ada garis tebal tegas yang digunakan sebagai simbol batas suatu wilayah dalam peta).

Ada titik di antara strip yang memutus garis tegas penuh. Artinya, ada titik/ruang/tempat dimana orang-orang di dalam 2 wilayah yang dibatasi untuk melintas, pass-over, memasuki, keluar, dari masing-masing wilayah. Untuk menggabung, menggantikan, mengurangi, mengalikan, eksistensi kewargaan.

Pak Arjo ngarit suket menyeberangi batas teritori Gunungkidul - Sleman. KH/Klepu.
Pak Arjo ngarit suket menyeberangi batas teritori Gunungkidul – Sleman. KH/Klepu.

Siapa yang Gunungkidul? Siapa yang lebih Sleman? Mereka, para remaja itu, warga Nglanggeran yang sekolah di Sleman. Embahnya tinggal di utara sungai, utara kreteg gantung. Sementara yang lain ada pak Arja, tinggal di utara kreteg gantung, trahnya Nglanggeran, hampir setiap hari mencari ‘pakan’ dengan menyeberangi sungai ke selatan, ke tegalannya. ‘Ngarit suket kalanjana’ yang hijau subur. Mereka laksana elektron yang berloncatan, membangun orbit baru. Dan nuklea-nya, pusatnya, adalah kali. Batas ibarat ‘suatu wilayah pusat’ yang dikelilingi plasma-plasma di kanan kirinya, yang mempunyai daya ikat sendiri, dalam perannya yang lebih sebagai pinggiran atau tepi atas sebuah pusat (inti) yang lebih besar :pengaruh’nya.

Kali (sungai) ini, jika dilihat dari pusat kewilayahan Gunungkidul, adalah tepi, pinggir. Namun jika dilihat dari sudut pandang warga di antara kedua wilayah perbatasan ini, kali merupakan pusat: aksi, hidup, gerak, migrasi. Maka untuk kali ini, kali adalah pusat aksi. Yang pinggir, yang tepi, yang disebut batas, ternyata dalam dirinya dapat berperan sebagai pusat, bagi kewargaan di sekitarnya. Maka, pinggir = pusat.

Sebaliknya, ruang yang disebut pusat aksi, pusat kegiatan warga di tengah-tengah kampung, di tengah kota di antara dua kabupaten, merupakan pinggiran, atau batas tepi, bagi warga sekitar kali yang gerak kehidupannya pulang-pergi lewat kali. Lewat batas. Jarang sekali warga di sekitar perbatasan ini melakukan gerak keseharian di pusat wilayah di pusat Gunungkidul atau di Sleman.

Terkadang, bahkan ada warga yang sama sekali belum pernah ke pusat suatu wilayah. Mereka terbatas oleh kebiasaan, pekerjaan, keperluan, bahkan terbatas merasa memiliki suatu identitas kewargaan atau tidak. Perbatasan adalah ‘gray-area’: siapa masuk yang mana. Cenderung campur. Hibrid. Asimilatif. Adaptif. Baik bahasa. Juga kekerabatan. Batas ‘handarbeni’ suatu identitas sebenarnya remang. Pusat = pinggir.

Batas yang berupa kreteg gantung di atas kali adalah batas yang dinamis: menggantung. Bergoyang. Bergerak. Seperti halnya sifat air di bawahnya. Warga yang menyeberang menggantungkan dirinya pada kreteg gantung. Kreteg gantung yang goyang adalah jaminan kehidupan: mampu menyeberang atau tidak.

Yang menyeberang pun menegaskan bahwa mereka tergantung pada yang di seberang; menggantungkan hidupnya pada yang di seberang; juga tempat bergantung yang di seberang sana yang menuntut warga di seberang yang sini menyeberang demi sebuah kehidupan.

Kreteg gantung berada pada posisi antara bawah dan atas, antara stabil dan gerak, antara pusat dan tepi. Ia mencoba mengurai batas. Karena batas merupakan cermin keberbatasan manusia dengan membuat simbol-simbol batas. Sekaligus batas yang ‘terpaksa’ meniadakan, melampaui batasannya sendiri, untuk memenuhi ketergantungan warga di sekitar batas pada yang lain. Atau ‘memaksa’ warga lain melampaui batas karena ketergantungan pada yang lain.

Tulisan ini mencoba membaca, batasnya batas itu dengan suatu batas tertentu, yaitu kali yang di atasnya kreteg gantung sebelah timur Curug Gedhe. Jelas lah sangat terbatas. (Klepu).

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar