Bari, Joki Pindul : Bahaya, Saya Berhenti Mengejar Wisatawan

Salah satu tempat mangkal joki pindul. KH/ Kandar.
Salah satu tempat mangkal joki pindul. KH/ Kandar.

PATUK, (KH)— Perkembangan yang menyertai kemajuan pariwisata tidak secara mutlak membawa efek yang positif. Terkadang ada saja sisi negatif yang  terjadi dengan adanya perkembangan itu.

Seperti diketahui, salah satu destinasi wisata andalan di Gunungkidul, yaitu Susur Goa Pindul, berdampak cukup signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya warga sekitar. Keterlibatan warga juga cukup tinggi, banyak warga secara langsung memperoleh dampak baik, memiliki usaha atau pekerjaan baru, ikut melayani ramainya wisatawan yang datang, baik sebagai pemandu susur goa, pedagang, penyedia kuliner, dan lainnya.

Pemandu terbagi ke dalam kelompok-kelompok yang memiliki lokasi kantor/ sekretariat dan pengelolaan hasil keuangan sendiri-sendiri. Dalam melayani peminat susur sungai bawah tanah ini mereka mematok tarif antara Rp. 30 hingga 40 ribu.

Perkembangannya, upaya jemput bola untuk mendapat tamu/ pengunjung sebanyak-banyaknya agar meraup lebih banyak hasil dilakuan, yakni dengan adanya Joki atau jasa antar yang menjemput wisatawan untuk diantar ke sekretariat di sekitar kawasan.

Menurut keterangan Bari, salah satu joki Goa Pindul saat ini ada 10 kantor sekretariat pemandu. Bahkan ada yang menyebutkan akan bertambah satu lagi. Kaitannya dengan upaya penjemputan, telah ada puluhan titik ngetem joki di sepanjang jalan Yogya-Wonosari mulai Patuk hingga masuk wilayah Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo.

Remaja dan orang tua menjadikannya sebagai pekerjaan baru atau sampingan untuk mendapat penghasilan tambahan. “Dari sekretariat saya dapat Rp. 10 hingga Rp. 15 ribu per wisatawan tiap masuk satu kawasan,” jelas Bari yang memiliki usaha jasa gergaji dan jual beli kayu ini, Jumat, (5/2/2016).

Karena sedang musim hujan usahanya sepi, lantas dirinya kembali mangkal di salah satu persimpangan di kawasan Patuk bersama beberapa temannya sesama joki, dengan memajang banner besar mereka meneriakkan tawaran jasa antar ke Pindul.

“Kalau dulu saya masih berani mengejar kalau ada gerak gerik pengendara yang melihat-lihat tulisan, dan menoleh ke saya,” tuturnya.

Dirinya mengaku menggunakan feeling saja, secara sekilas ia bisa membedakan pengendara itu wisatawan atau bukan. Ketika intuisinya mengatakan pengendara bermotor adalah wisatwan, lantas dirinya melakukan pengejaran, menanyakan apakah akan ke Pindul sekaligus menawarkan jasa antar, negosiasi sambil berkendarapun dilakukan.

“Saya tahu, memang bahaya, sekarang saya sudah berhenti mengejar wisatawan, takut, pernah ada jatuh korban,” katanya lagi menceritakan sesama joki terjatuh dan terluka parah saat mengejar.

Meski bertaruh keselamatan diri sendiri dan pengendara lain, Bari menambahkan masih banyak yang melakukan hal demikian, Terutama mereka yang masih muda dan memiliki kelihaian berkendara. Dirinya mengaku, meski mendatangkan uang, hal itu memang tindakan negatif, berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar