Bantu Atasi Masalah Kejiwaannya, Bukan Menghina Orangnya

gangguan-jiwa-general
Gangguan kesehatan mental yang sering ditemukan di masyarakat. Dok: Kemenkes.

WONOSARI, (KH)— Sebuah realita masih minimnya upaya yang dilakukan untuk membantu penyembuhan orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) dan orang dengan gangguan jiwa (ODGM) di dalam masyarakat. Hal ini terjadi karena ketidaktahuan dan kemampuan berbagai aspek kesehatan jiwa baik dari keluarga atau orang terdekat dengan penderita ataupun masyarakat secara umum.

Bahkan tindakan yang dilakukan terhadap ODMK atau ODGJ terkadang membuat kondisinya semakin buruk. Cara yang diambil justru merampas hak asasi penderita. Perlakuan diskriminasi, penelantaran, bahkan tindakan pemasungan diambil sebagai upaya terakhir. Sementara itu, upaya yang semestinya ditempuh melalui tindakan medis tidak dilakukan.

Dukungan sikap dari lingkungan sekitar sangat penting. Yang semestinya dilakukan ialah memahami dan membantu mengatasi masalah/gangguan kejiwaan tersebut, bukan memusuhi atau justu malah menghina orang dan keluarganya. Karena siapapun tidak akan menjadi lebih baik dengan merendahkan yang lain.

Psikiater RSUD Wonosari, dr. Ida Rochmawati, MSc., Sp.KJ (K) beberapa waktu lalu memberikan perincian jenis-jenis gangguan jiwa dengan kemungkinan tinggi mendapat perlakuan pemasungan dari orang terdekat.

Menurutnya, perlunya sikap terhadap pasien atau orang yang membutuhkan pertolongan untuk terlepas dari masalah/ gangguannya, seyogyanya tak pantas untuk memberikan hinaan atau cercaan terhadap mereka.

“Sikap kita semestinya adalah memotivasi agar terjadi perubahan ke arah lebih baik untuk terlepas dari masalah/ gangguan yang dialami,” katanya.

Berdasar data Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Gunungkidul, pada tahun 2016 terdapat 46 penderita gangguan jiwa dan sejenisnya yang mendapat tindakan pemasungan.

Pada umumnya, menurut dr Ida, mereka masuk kedalam kategori-kategori berikut ini;

Skizofrenia (Psikotik), Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang bersifat kronik yang ditandai dengan kehilangan kemampuan menilai realita yang dimanifestasikan dengan kekacauan perilaku, kekacauan pembicaraan, gangguan persepsi (seperti halusinasi pendengaran, penciuman, penglihatan dan sebagainya), gangguan isi pikir (berupa waham), afek yang tidak sesuai, tumpul sampai datar. Hal tersebut berdampak pada penurunan mutu kualitas hidup seseorang.

Demensia (kepikunan), Demensia merupakan kumpulan gejala akibat gangguan pada struktur otak yang bersifat menahun, menurunkan fungsi dan mengganggu kegiatan sehari-hari akibat penurunan fungsi luhur (kognitif), termasuk daya ingat/memori (kesulitan mengingat hal-hal yang baru dipelajari bahkan dalam kondisi yang lebih berat, ingatan sebelumnya juga hilang), konsentrasi, orientasi, kemampuan memahami, mengidentifikasi risiko dan konsekuensi (berpikir kritis, menyusun rencana), berhitung, kemampuan belajar, berbahasa, yang berdampak pada kemampuan pengendalian emosi, perilaku sosial, atau motivasi.

Problem perilaku dan psikologik yang sering ditemukan pada orang dengan demensia di antaranya gangguan persepsi, proses pikir, suasana perasaan, dan perilaku yang sering disalahartikan sebagai skizofrenia.

Gangguan Afektif Bipolar, Gangguan jiwa ini bersifat episodik, dapat kambuh, namun berpotensi baik untuk penyembuhan cepat bila mendapatkan tatalaksana yang adekuat dan segera. Namun bila tidak, dapat berdampak besar untuk timbulnya kematian. Gangguan ini terutama berhubungan dengan gejala suasana perasaan gembira berlebihan (manik), hipomanik, sedih berlebihan (depresi), atau campuran 2 kutub emosi dalam satu episode.

Dalam kondisi yang berat, dapat disertai gejala psikotik, risiko bunuh diri, maupun risiko melukai orang lain. Kondisi tersebut tentu saja membutuhkan perawatan yang lebih intensif. Resiko lain dalam kelompok gangguan ini adalah penyalahgunaan obat, zat, dan alkohol yang berujung pada perilaku berisiko lainnya seperti seks bebas.

Retardasi Mental, Gangguan ini ditandai oleh kurangnya kemampuan mental dan keterampilan yang diperlukan seseorang untuk menjalankan kehidupan termasuk menyelesaikan masalah, ditandai dengan gangguan pada keterampilan pada beberapa area perkembangan seperti kognitif, bahasa, motorik, dan sosial) selama periode perkembangan.

“Ciri utama jenis ini adalah ketidaksesuaian usia kemampuan yang dimiliki dengan usia sesungguhnya. Sebagai contoh, seorang anak memiliki kemampuan yang sesuai untuk anak umur di bawah 3 tahun, padahal usia sesungguhnya anak tersebut adalah 5 tahun,” paparnya.

Sehingga, kondisi ini mengakibatkan keterbatasan fungsi intelegensia (penyelesaian masalah) dan fungsi perilaku adaptif (penyesuaian diri). (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar