Bancak

Sendratari bertema Bancak-Doyok, Festival Sendratari DIY tahun 2016. | KH/Wg.

Relasi ordinasi subordinasi antara Gusti – Kawula atau Tuan – Abdi atau Ndara – Rowang atau Dewa – Titah dan sebaliknya setua pemikiran manusia tentang kehadirannya di alam ini; kehadiran alam itu sendiri. Dewa, atau tepatnya Bathara (konsep bathara cenderung lebih mendekati gambaran leluhur Jawa/Nusantara dibanding dewa, meskipun Hindu pun secara merdeka bisa ditafsirkan Hindunya Hindu India, yang tak lain Hindu [indung] Nusantara; sebelum ‘agama-agama’ dan budaya luar masuk ke Nusantara), sebagai kepanjangan sabda Dewa/Bathara Tertinggi, dalam sistem pantheon Jawa, yang mirip dengan nalar Platonik bekerja, merupakan tempat para Titah mengaduh. (Ko)Ordinat kedewaan atau kebatharaan, yang berada di titik puncak parabola atau gunung-mitis tertinggi, akan dituju para titah, abdi, rowang, dalam laku geraknya. Gerak vertikal parabolis.

Gerak mereka ini dalam rangka mengaduh: sambat meminta sesuatu. Lazimnya: minta pertolongan.

Para ksatria, raja, pangeran, memiliki (memunculkan?) otoritas (mungkin karena pandangan monisme bahwa yang lebih mula di bumi mewarisi genetika langit. Dalam kadar, semakin disebut raja atau pangeran dan sejenisnya semakin besar warisan genetiknya) bahwa dirinya adalah Gusti, Pangeran, Dewa, Tuan, dan lain-lain (dunia atas; kelangitan; mayapada) yang ‘ngeja-wantah‘: menyekuler, melalui bentuk kasarnya dalam suatu tatanan sosial dalam hubungannya dengan istilah kawula, abdi, rowang, atau rakyat. Oleh karena itu dalam narasi-narasi purwa model Jawa, termasuk narasi cerita wayang Mahabharata dan Ramayana, Watugunung, dan Panji logika monistik (pemancaran; penurunan) begitu gamblang terlihat melalui nalar penitisan.

Yang purwa, atau yang langit, menurun ke yang berikutnya atau yang bumi. Artinya, jika para raja dan abdi sama-sama turunan, maka keduanya mewarisi genetika kelangitan. Bancak, sebagai kategori abdi, dalam kesubordinasiannya dengan si ksatria, katakanlah Panji, atau sang raja lain (penokohan) yang dengan setia dilayani, dengan demikian merupakan keturunan langit pula. Ia Bathara Ismaya. Kembarannya Bathara Antiga.

Sendratari bertema Bancak-Doyok, Festival Sendratari DIY tahun 2016. | KH/Wg.

Para ksatria, pada dasarnya, turunan (titisan) Bathara Surya, atau Bayu, atau Wisnu, atau yang lain. Bersamaan dengan para putri (permaisuri; pasangan abadi) sebagai turunan (titisan) Bathari Sri, Widowati, dan seterusnya. Bathara Guru pengatur rodanya.

Variasi cerita Bancak (abdi) yang menginginkan ‘menyatu’ dengan bendara putrinya, katakanlah tokoh seperti Tamioyi (dalam logika penokohan, sang tokoh bisa berbeda nama di versi cerita lain; biasanya cenderung ke motif, atau mitem [aksi pokok] si tokoh; sebagai titisan Bathari Sri), barangkali juga seperti Anoman terhadap Shinta (Widowati), mengungkapkan hasrat purwa yang terpendam bahwa persatuan-kosmis memang dikehendaki oleh semua turunan langit. Tak hanya ksatria, namun juga termasuk para abdi.

Kelak, para ksatria, pada penggal adegan lain, pun demikian sebaliknya: menghendaki persatuan kosmis dengan pasangan abadinya. Dalam laku pencarian atau persatuan dengan pasangannya, para ksatria (yang bahkan keturunan dewa/bathara) menemui kesulitan. Mereka mengaduh (sambat) kepada para abdi.

Adegan seperti ini menggambarkan sebuah tragedi (gara-gara): terpisahnya para pasangan, tercerai berainya keluarga Panji (manusia). Namun persatuan (kembali) dengan pasangan abadi tak mungkin tergapai tanpa perpisahan: pembentukan diri (tubuh) baru yang secara genetik merupakan ‘diri’ yang lama; lebih purwa. Tragedi terpisahnya tuan dan putrinya didampingi keberadaan para abdi. Para abdi menghiburnya. Para abdi memberikan petunjuk: para ksatria harus bagaimana.

Arkeo-narasi (narasi arkais, narasi arkeologis) cerita Panji meninggalkan artefak (arketip). Kayu-cerita (babon) berkorelasi dengan carangan-cerita (anak). Jika pencarian Panji untuk meraih hasrat persatuan abadi dengan pasangan hidupnya dianggap sebagai babon, maka pola pencarian Bancak dalam bungkus ‘abdi’ merupakan carangan. Namun demikian, pusat cerita justru jatuh pada pencarian jati diri Bancak, bukan Panji. Triangulasi Bathara Guru (Pengatur), Bathara Ismaya dan Bathara Antiga (Pembimbing, Pendamping) tampaknya merupakan pola purwais yang diulang dalam pencarian jati-diri tokoh Bancak.

Bathara Guru (melalui wakil kepala kahyangan, Narada) memengaruhi kelas ksatria, memunculkan kelas ‘bendara‘ berwujud satriya bagus; sementara Bancak dan Doyok mewakili presentasi Bathara Ismaya dan Antiga; kelas abdi.

Maka dari itu, Dewi Tamioyi berkehendak terhadap Bancak yang Doyok (Ismaya yang Antiga), jika dan hanya jika Bancak adalah seorang raja, ksatria. Motif persatuan purwa yang dimisikan oleh Bancak, atas ‘campur-tangan’ (di tataran permukaan disebut bantuan) dunia atas (dewa, bathara) harus gagal. Penggagalan hasrat menyatu dengan sang putri (pasangan kosmis sang ksatria) yang ingin dilakukan oleh Bancak pun harus memenuhi prasyarat (nalar ordinasi) bahwa, bagaimanapun, Bancak adalah rowang, kawan, abdinya para ksatria (titisan dewa/bathara Ismaya Antiga). Kehadiran Bancak dan tokoh-tokoh semacamnya merupakan aksi arkais dalam rangka “nggelarke klasa“, bagi aksi penyatuan sang ksatria dengan sang putri (logika Platonik kahyangan). Langit (melalui bathara Narada) yang mengubah Bancak menjadi seorang ksatria (tubuhnya)

Dan teknik penggagalan yang digagas (diordinasikan) langit (dewa, bathara, gusti, pangeran) adalah mempersonifikasikan diri Bancak sebagai diri yang terbelah, mendua, bertopeng, hingga ia pada awalnya “pangling” kepada dirinya sendiri lantas mengenali siapa jati dirinya. Bancak yang mereplika. Yang bercermin. Yang membelah diri. Yang mengidentik. Ismaya yang Antiga. Muncul lah person yang dinamai Dhoyok. Diri (utuh) yang terbelah (kontras). Muncul kembaran identik. Yang satu belo mata, yang satu sipit. Yang satu tirus pipi, yang satu tembem. Yang satu mancung hidung, yang satu pesek. Yang satu putih, yang satu hitam.

Pencarian sejati-diri sang tokoh melalui jalan kontra(s), peperangan, ambiguitas, atau paradoksi. Dhoyok tiruan Bancak. Tapi beda. Namun identik. Dua oposisi (kutub) yang sama sekaligus beda. Beda yang saling melengkapi. Yang satu tiada tanpa adanya yang lain. Ada bersama Ada lain. Ada yang satu harus berperang dengan Ada yang (yang sebenarnya tiruannya).

Peperangan antara Bancak dan Dhoyok memperebutkan putri yang cantik pun tak terelakkan. Keduanya berperang dalam identitasnya sebagai satriya bagus. Satriya bagus (kelas ksatria) bukan personalitas mereka sebenarnya. Peperangan yang seimbang mengakibatkan “badhar” kedirian mereka sesungguhnya. Yaitu person yang dikategorikan abdi, kawan, rowang. Bukan sungguh bendara, gusti, ataupun ksatria. Seperti halnya sang ksatria yang membutuhkan kategori teman (kawan) atau abdi untuk dapat menggapai persatuan abadi dengan sang putri, sebaliknya, sang abdi membutuhkan kategori bendara (gusti, tuan) untuk dapat meraih persatuan dengan diri sejati.

Pola arkais inilah, yang tersembunyi sebagai motif purwa manusia purwa, yang hidup dan terwarisi dalam kesadaran manusia modern, yang ditempatkan sebagai tema festival sendratari antar kabupaten-kota se-DIY tahun ini, disebut dengan ‘sambatan‘.

Sambatan demi keberlangsungan kehidupan harmonis antara Tuan dan Abdinya, antara Gusti dan Kawulanya, yang seakan saling mensubordinasi, meng-oposisi, namun saling melengkapi, dalam mencari persona diri. Yang sejati.

Di sebalik topengnya sendiri.

(Wage).

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar