Balada Lomba Lari 5 K Dalam Hut Ke-185 Kabupaten Gunungkidul

oleh
Rafi dan temannya mencapai finis bersama. dok. Rafi
Rafi dan temannya mencapai finis bersama. Dok: Rafi

PLAYEN, (KH)– Rangkaian kegiatan peringatan Hari Jadi Gunungkidul yang penuh dengan kemeriahan ternyata juga menyisakan kekecewaan bagi seorang atlit. Cukup ironis, dibalik hingar bingar pesta peringatan, apresiasi terhadap pemenang atlit lomba lari yang nota bene diselenggarakan sebagai salah satu rangkaian peringatan belum juga diberikan.

Pengakuan Arif Putra Rahman, salah satu pemenang lomba lari 5K yang diselenggarakan dalam rangka Harkitnas dan Hari Jadi Gunungkidul  ini membuat prihatin. Hadiah yang dijanjikan panitia tak diberikan hingga lomba selesai digelar.

“Yang diberikan hanya piala dan piagam. Semua tahu bahwa pemenang akan diberikan uang juga. Meski tidak banyak, itu kami butuhkan,” keluhnya, Jumat, (27/5/2016).

Sebenarnya, ia pun tidak enak menyampaikan hal ini. Tetapi karena ada hal lain yang membuatnya lebih kecewa lagi, ia terpaksa mengutarakan uneg-unegnya.

Diceritakan, saat lomba pada Rabu, (25/5/2016) lalu ia ikut bersama teman Atlit lain yakni Amri Wahyudin dan Nanang. Pada hari pelaksanaan, sebelum lomba berlangsung, ketiganya tahu ada informasi bahwa hadiah (uang) tidak dapat langsung diberikan setelah lomba usai. Dari sini, ia menganggap tak ada keseriusan dalam penyelenggarannya.

“Kalau dana belum ada kenapa dipaksakan digelar?,” tanya dia. Maka ketiganya bersepakat, ketika memang mampu memenangkan lomba akan masuk garis finis secara bersama bergandengan. Waktu itu ia sadar sedang mengikuti lomba, tetapi hal itu dilakukan bukan bermaksud tidak menjunjung sportivitas.

“Kami biasa lomba bersama, baik tingkat DIY bahkan nasional. Pelaksanaan waktu itu kita anggap pemanasan juga, hadiah pun akan kita gunakan bersama-sama guna persiapan lomba di Semarang,” ujar Rafi melanjutkan.

Ia mengaku tidak menghiraukan dari ketiga pemenang siapa yang akan diposisikan sebagai juara 1, 2 dan 3. Ia menganggap juri sewaktu melakukan penentuan juga tidak mempermasalahkan. Bahkan awalnya, hadiah uang yang belum bisa disiapkan oleh panitia, ia dan temannya tidak mempermasalahkan sama sekali.

Tetapi yang membuat ia sangat kecewa, ada oknum panitia atau juri yang dikemudian hari mengekspos melalui media sosial foto aksi mereka mencapai garis finis bersama bergandengan tangan dengan sederet cemoohan dan dituduh memalukan.

“Jujur kita butuh operasional. Meski hanya Rp. 200 ribu untuk juara 1, Juara 2 Rp. 175 ribu dan juara 3 Rp. 150 ribu itu pada akhirnya belum diberikan. Kami maklum dan bersedia menunggu. Tetapi malah di-publish (di medsos). Kita dicerca dengan berbagai penghinaan. Kami siap di diskualifikasi, tapi kenapa tidak dilakukan setelah lomba, malah diumbar begitu,” tanya Rafi jengkel.

Status dan komentar yang ia tunjukkan memang membuat Rafi kecewa dan sedih. “Contoh memalukan dalam dunia atletik…masuk finish bareng bergandengan tangan mana sportifitasmu,” tulis netizen.

“Saya juga.. kami yang kontra juga butuh uang. Tapi tidak miris sperti apa yg kamu beberkan disini. Butuh uang.. butuh makan.. kenapa gak sekalian mbegal? Kasarannya gitu,” ledek netizen yang lain.

“Atlit Mental Kere di BlackList saja…. !!!!!!!!!!!,” timpal netizen yang lain.

Rafi mengaku sebenarnya tahu, semua menginginkan sportivitas. “Tetapi, ngutang hadiah itu justru pelecehan sportivitas yang mematikan spirit sebagai pelaku olah raga,” tandas pemuda dari Playen ini.

Dimintai tanggapan mengenai hal ini, Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Disdikpora Gunungkidul hanya sedikit berkomentar. “Ya anggarannya belum cair,” kata Agung Danarta. (Kandar)

Komentar

Komentar