Bagaimana Nasib Anak Sekolah yang Ditolak Sekolah Pinggiran?

oleh
Penerimaan siswa baru di salah satu sekolah favorit di Gunungkidul. KH
Penerimaan siswa baru di salah satu sekolah favorit di Gunungkidul. KH

TANJUNGSARI, (KH)— Sekolah pinggiran, khususnya SMA dan SMK, selama ini selalu identik dengan kekurangan murid saat penerimaan peserta didik baru (PPDB) di awal tahun pelajaran. Mereka dianggap kurang mampu bersaing dengan sekolah-sekolah yang letaknya lebih strategis atau kalah bersaing dengan sekolah-sekolah dengan stigma favorit.

Banyak pelajar yang berasal dari daerah pinggiran yang menuntut ilmu ke wilayah yang dianggap lebih bergengsi, seperti sekolah-sekolah di daerah Kecamatan Wonosari. Memang tidak dapat dipungkiri, sekolah ini memang telah lama menjadi incaran para lulusan SMP karena berbagai faktor dan alasan.

Banyak faktor yang menyebabkan calon siswa baru menyerbu SMA/SMK favorit, dan tak sedikit calon siswa baru yang mendaftar di sekolah bukan favorit tapi letaknya di daerah kota. Selain stigma favorit, letak sekolah di tengah keramaian kota memang menjadi daya tarik sendiri bagi calon siswa.

Namun pada PPDB tahun pelajaran 2016/2017 beberapa sekolah pinggiran telah mampu merubah paradigma ini. Sekolah-sekolah ini telah mampu memenuhi quota siswa baru bahkan siswa yang mendaftar melebihi dari quota yang ada.

Hal ini menunjukkan bahwa sekolah pinggiran telah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dalam memberikan pelayanan pendidikan. Calon siswa dan orang tuanya mulai menanamkan kepercayaan dan mulai menepis anggapan bahwa sekolah pinggiran tertinggal jauh dari sekolah favorit dan sekolah perkotaan dalam hal mutu pendidikan.

Beberapa sekolah yang melebihi quota saat PPDB tahun pelajaran ini adalah SMKN 1 Girisubo dan SMAN1 Tanjungsari. Khusus SMK N 1 Girisubo, jurusan Mekanik Otomotif menjadi jurusan favorit yang diserbu calon siswa baru.

Sementara SMAN 1 Tanjungsari juga menunjukkan hal yang sama. Dari kuota 160 siswa yang dibutuhkan, pada PPDB beberapa hari yang lalu jumlah siswa yang mendaftar mencapai 175 siswa.

Meski hal seperti ini bisa memberikan kabar baik pada dunia pendidikan khususnya sekolah pinggiran, namun penolakan calon siswa baru pada sekolah pinggiran yang disebabkan melebihi quota sering dianggap sebuah masalah tersendiri. Sebab apabila calon siswa telah tertolak di sekolah pinggiran, siswa tersebut hampir bisa dipastikan sangat sulit mencari sekolah lain.

Bahkan Comed Sudarsono SPd, Kepala Sekolah SMAN 1 Tanjungsari, sempat mengkhawatirkan nasib anak-anak tersebut apabila sampai tidak bisa melanjutkan sekolah. Padahal dalam undang-undang setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

“Hal ini sebenarnya PR bagi kita semua. Apa mereka harus dibiarkan tidak melanjutkan sekolah karena hal ini? Terus bagaimana nasib mereka nanti? Kalau mereka kemudian bisa dapat sekolah lain nggak masalah, tapi kalau tidak kan kasihan,” Ujar Comed, belum lama ini.

Salah satu solusi yang bisa mengatasi nasib anak-anak seperti ini adalah dengan memasukan ke sekolah lain yang masih kekurangan murid. Dengan begitu akan terjadi keseimbangan jumlah murid antara sekolah yang satu dengan lainnya.

Namun hal ini tak mudah begitu saja dijalankan karena berbagai kendala. Pertama, calon siswa bisa menolak untuk dimasukkan sekolah lain karena faktor jarak dan transportasi yang ujungnya bermuara pada faktor ekonomi. Kedua, calon siswa baru belum tentu tertarik menuntut ilmu di sekolah lain tersebut karena tidak sesuai minatnya.

Solusi lain yang bisa ditempuh adalah dengan membuka rombongan belajar atau kelas baru. Dengan cara ini siswa yang sempat tertolak bisa ditampung sehingga anak bisa mendapatkan hak pendidikannya sesuai dengan keinginan dan harapannya.

Sama halnya dengan solusi pertama, ternyata solusi inipun tak begitu saja bisa dijalankan karena membuka kelas baru harus mendapatkan persetujuan dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunungkidul. Selain itu, membuka kelas baru bisa menimbulkan kecemburuan bagi sekolah lain terutama sekolah swasta yang masih kekurangan murid.

Maka dari itu, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunungkidul selama ini sangat berhati-hati dalam mengeluarkan ijin pembukaan kelas baru pada sebuah sekolah. Bisa dibayangkan, kalau SMAN 1 Wonosari, SMAN 2 Wonosari, SMKN 1 Wonosari, SMKN 2 Wonosari, dan sekolah favorit lain bisa dengan bebas membuka kelas baru, bisa-bisa sekolah lain segera tutup.

Pengecualian bagi sekolah pinggiran. Sekolah pinggiran kebanyakan menampung siswa yang berdomisili di sekitar sekolah itu saja. Apabila anak-anak tersebut ditolak di sekolah pinggiran sementara mereka tidak bersedia dimasukkan ke sekolah lain karena faktor minat, jarak, dan ekonomi, lantas apakah mereka akan dibiarkan begitu saja tidak sekolah? Mungkin membuka kelas baru adalah solusi bijaknya.

Solusi yang akan ditempuh oleh para pemangku kebijakan pada akhirnya memang harus berpihak pada anak bangsa dalam mendapatkan hak pendidikan. Memperhatikan keseimbangan jumlah siswa antar sekolah sangat perlu diperhatikan, namun yang lebih perlu diperhatikan adalah bagaimana cara agar anak usia sekolah bisa menuntut ilmu sesuai dengan haknya. (S. Yanto)

Komentar

Komentar