Babat Dalan Gebangkara, Ribuan Warga Bersama Bregada Prajurit Berjalan Menembus Hutan

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Ritual Babat Dalan Gebangkara. KH/ Andhi.

PURWOSARI, (KH),– Ribuan masyarakat mengikuti Upacara Adat Babat Dalan Gebangkara, kawasan Pantai Bekah, Desa Giripurwo, Kecamatan Purwosari, Jum’at Kliwon, (5/5/2017). Satu gunungan hasil bumi dan 20an nasi ingkung diarak warga bersama satu bregada prajurit lombok abang.

Kepala Desa Giripurwo, Supriyadi mengatakan, Upacara Adat rutin dilaksanakan setiap tahun pada Bulan Mei. Dalam kesempatan tersebut dirinya menyampaikan berita gembira, bahwa pada tahun 2017 ini, Desa Giripurwo resmi menjadi desa budaya menyusul diterimanya Surat Keputusan (SK) Gubernur per Januari 2017.

“Upacara adat terlaksana atas kerjasama Desa Budaya Giripurwo bersama Dinas Kebudayaan DIY. Tahun ini upacara dikemas lebih menarik oleh panitia yang dimotori oleh pendamping desa budaya,” terang Supriyadi.

Dari ribuan orang yang hadir sebanyak 90 persen diantaranya mengenakan busana jawa gaya Yogyakarta. Selain warga masyarakat Giripurwo, banyak pengunjung dari berbagai wilayah turut serta dalam acara. Warga memulai ritual babat dalan dengan berjalan kaki menembus hutan dan semak belukar sejauh 2 kilometer dari pemukiman menuju pusat upacara adat.

Berada disebuah tempat yang cukup terpencil serta dianggap sakral, dilangsungkan upacara kenduri dan kembul bujana atau makan bersama. Keberadaan dua petilasan yang dianggap sebagai cikal bakal masyarakat setempat menjadi alasan dipilihnya tempat tersebut sebagai lokasi upacara.

Warga berjalan menembus hutan untuk sampai di lokasi ritual. KH/ Andhi.

Benar-benar tersembunyi, lokasi berada di bibir tebing pantai selatan, beberapa ratus meter di arah timur dari kawasan Pantai Bekah. Kegiatan dihadiri Muspika Purwosari, Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Kasi Adat Tradisi Dinas Kebudayaan DIY, tim monitoring pendamping desa budaya kKabupaten Gunungkidul, Forum pendamping desa budaya Gunungkidul, anggota DPRD DIY, serta seniman juga tokoh budaya dari berbagai daerah.

Menurut penuturan Pendamping Desa Budaya, Andhi Tri Laksana, S.pd, Babat Dalan (Pembukaan/ pembersihan jalan) menuju Gebangkara merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang. Tradisi dilakukan sebagai wujud syukur kepada tuhan atas karuniaNya.

Babat Dalan merupakan kebiasaan nenek moyang di kawasan Gebangkara sebelum panen. Sesuai cerita, jenis padi yang dipanen zaman dahulu yakni padi jawa (padi dengan batang tinggi), petani membawa pulang hasil panenan dengan cara dipikul melewati jalan setapak penuh semak belukar,” papar Andhi.

Sehingga, lanjutnya, banyak tangkai padi yang tersangkut dan rontok karena masih rimbunnya semak di kanan kiri jalan setapak. Oleh sebab itulah warga bersama-sama melaksanakan Babat Dalan. Hingga saat ini kebiasaan tersebut berubah menjadi rangkaian kegiatan upacara adat atau tradisi.

Sementara, dua petilasan dikenal memiliki nama Eyang Jogoniti dan Eyang Troyuda. Keduannya diyakini sebagai cikal bakal masyarakat setempat. Mereka merupakan bagian dari prajurit pelarian Majapahit. (Kandar)

Komentar

Komentar