Babat Dalan dan Merti Petilasan Gebangkoro Pantai Bekah

oleh
Kenduri babat dalan. Foto : Kandar
Kenduri babat dalan. Foto : Kandar

PURWOSARI, (KH) — Mendengar adanya upacara adat tradisi Babat Dalan di Gunungkidul, tentu langsung tertuju pada Desa Sodo, Kecamatan Paliyan. Ternyata di tempat lain di Gunungkidul masih ada istilah tradisi dengan nama serupa.

Seperti yang dilakukan warga di dua Padukuhan, Temon dan Karangnongko Desa Giripurwo, Purwosari. Setiap tahun, tepatnya pada Bulan Mei di Hari Jumat Kliwon, mereka mengadakan adat tradisi “Babat Dalan Dan Kenduri Pertapan/ Petilasan Gebangkoro” di kawasan Pantai Bekah.

Ratusan warga mengadakan kenduri pada lokasi yang sangat terpencil. Suatu tempat di arah sebelah timur spot pemancingan laut Bekah bernama Gebangkoro di mana terdapat petilasan Eyang Jogoniti dan Eyang Troyuda. Untuk sampai ke tempat ini ratusan warga berjalan kaki menempuh jarak sekitar 2 Km melewati jalan setapak bebatuan dan penuh semak belukar.

Menurut penuturan Supriyadi, kades setempat, Babat Dalan (Pembukaan/pembersihan jalan) menuju Gebangkoro merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang. Pada puncak kegiatan diadakan ritual kenduri. Di tempat ini kenduri disebut sebagai sedekahan (Sedekah Laut). Terdapat beberapa nama untuk penyebutan acara tersebut, namun tetap merupakan tindakan wujud syukur kepada Tuhan atas segala karuniaNya.

Seperti upacara yang dilangsungkan beberapa waktu lalu, di mana turut hadir Drs Sukis Heriyanto M Si, Camat Panggang bersama Muspika, Disbudpar, Dewan Budaya DIY, jajaran Polsek Purwosari, serta tokoh perangkat desa setempat. Dalam sambutan, Sukis Heriyanto sependapat, bahwa pelaksanaan budaya tradisi sebagai media syukur.

“Selain bersyukur atas segala kemudahan dan hasil yang baik dari upaya melangsungkan hidup melalui pertanian, berdagang, nelayan, beternak dan lainya, juga menjaga budaya tradisi agar dapat dijadikan tameng budaya asing yang negatif,” kata Sukis dalam sambutan, Jumat, (1/5/2015).

Sambutan Bupati yang dibacakan oleh Nunuk M, Kasubag Perencanaan Disbud Gunungkidul, menyatakan ucapan terimakasihnya kepada warga, karena hingga saat ini masih setia menjaga adat tradisi sebagai bagian budaya adiluhung.

Beberapa hari setelah berlangsungnya upacara adat tradisi, KH melakukan penelusuran terkait apa yang menjadi latar belakang tradisi tersebut. Dari hasil penelusuran terdapat berbagai versi cerita sejarah dan juga mitos ditemukan.

Seperti yang disampaikan Wignyo Sukarjo, tokoh sepuh yang dipercaya masih sedikit banyak ingat cerita turun temurun mengenai pelaksanaan ritual tersebut. Mengenai tradisi Babat Dalan, dirinya mengutarakan bahwa pelaksanaannya merupakan kebiasaan dari nenek moyang ketika menjelang masa panen.

“Menurut cerita simbah buyut, jenis padi waktu itu padi jawa (padi dengan batang tinggi), petani membawa pulang hasil panenan dengan cara dipikul melewati jalan setapak penuh semak belukar. Banyak tangkai padi yang tersangkut dan rontok karena masih rimbunnya semak pada kanan kiri jalan,” jelasnya, Minggu (3/5/2015).

Atas dasar itulah warga bersama-sama melaksanakan Babat Dalan, (membuka dan membersihkan jalan). Hingga saat ini kebiasaan itu dijadikan rangkaian kegiatan adat tradisi.  Sedangkan kenduri yang dilaksanakan di pertapan Gebangkoro selain sebagai wujud syukur kepada Tuhan juga sebagai penghormatan kepada dua tokoh leluhur; biasa disebut cikal bakal atau pengayom warga setempat, yang tak lain Eyang Jogoniti dan Eyang Troyuda.

Menurut ingatan Wignyo, nama tempat Gebangkoro bermula adanya Pohon Gebang yang tumbuh di areal semacam teluk di mana di kanan kirinya merupakan lereng perbukitan rindang. Merambat di bagian batang pohon tumbuhan bernama Koro (tanaman merambat jenis kacang-kacangan). Batang pangkalnya tumbuh di sekitar pohon Gebang, namun ujungnya menjalar sampai Padukuhan Kacangan, Desa Giripurwo dengan jarak sekitar 5 Km, sehingga tempat itu hingga kini dikenal dengan sebutan Gebangkoro.

Leluhur Eyang Jogoniti dan Eyang Troyuda sesuai cerita Wignyo merupakan tokoh pelarian asal Majapahit yang mengamankan diri saat kerajaan runtuh sekitar abad 16. Dikatakan sebagai perwujudan leluhur, awalnya pohon Gebang juga diyakini ada dua di areal tersebut, namun dinyatakan musnah sekitar tahun 1943, bersamaan dengan hilangnya habitat celeng (babi hutan) di wilayah itu menuju wilayah Kebumen karena terdesak pembukaan lahan pertanian oleh warga.

Saat Wignyo kecil, dahulu seingatan dia, di Gebangkoro terdapat dua rumah limasan beratap alang-alang. Saat ini hanya terdapat dua petilasan, semacam makam. Di tempat inilah ritual kenduri sekaligus kembul bujono (makan bersama) setelah Babat Dalan yang masih lestari hingga saat ini.

Manfaat yang diperoleh, selain diyakini mampu mendatangkan ketentraman dan keselamatan; juga dapat meningkatkan kerukunan; pemersatu warga yang beragam kepercayaannya, sehingga layak untuk dilestarikan. Menu nasi uduk dan ingkung selalu ada acap kali tradisi dilaksanakan. Warga membawa uba rampe sesaji dan berbagai masakan tersebut dari kediamannya. Setelah rangkaian ritual doa permohonan secara bersama menyantap masakan dengan menggunakan daun Jati sebagai pengganti piring. (Kandar)

Komentar

Komentar