Ayo Memanen Air Hujan

Telaga Motoendro di Temuireng Panggang masih menjadi tumpuan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan air domestik. Dok: KH/Kandar.

KABARHANDAYANI,– Musim penghujan segera tiba. Air hujan kebanyakan masih kita perlakukan sedemikian rupa agar cepat-cepat mengalir dan tidak menimbulkan genangan di pekarangan rumah dan ladang kita. Di mana-mana saluran pembuang air hujan atau yang disebut saluran drainase telah diperbaiki bahkan diplester mulus.

Kondisi yang ada di lapangan, sebagian besar masyarakat kita belum memanfaatkan air hujan. Bahkan dengan bungkus alasan yang terlihat modern dan masuk akal pun ditemui. “Gunungkidul sudah maju bro! Ngapain memanfaatkan air hujan? Lha wong saya sudah pasang saluran PDAM, tinggal putar kran air sudah ngocor. Bahkan turah-turah untuk nggebyur kamu yang sering mengejek Gunungkidul kui larang banyu.” Begitulah kira-kira celetukan yang sering muncul.

Fenomena air hujan dibuatkan “jalur cepat” drainase mengalir ke hilir memang marak saat ini. Alasannya agar menghindari genangan atau banjir. Sesungguhnya, semakin baik sistem drainase di suatu tempat, maka semakin besarlah kemungkinan banjir akan terjadi di bagian hilirnya. Di sisi lain, muncul dampak semakin besar kemungkinan terjadi kekeringan di bagian hulunya saat musim kemarau.

Agus Maryono, ahli Ekohidrolika Universitas Gadjah Mada dalam penelitiannya menengarai, konsep drainase ramah lingkungan memang belum sepenuhnya tersosialisasi di masyarakat. Perencanaan dan implementasi drainase yang dilaksanakan saat ini cenderung masih menggunakan cara drainase konvensial tadi. Cara membuat “jalan tol”, agar air cepat-cepat mengalir ke hilir lewat saluran drainase yang “besar” dan “mulus”.

Drainase ramah lingkungan sesungguhnya mampu menjadi solusi dalam menjaga kebutuhan air suatu wilayah. Drainase ramah lingkungan adalah upaya mengelola air hujan dengan cara MENAMPUNG, MERESAPKAN, MENGALIRKAN, dan MEMELIHARA dengan tidak menimbulkan gangguan aktivitas sosial, ekonomi, dan ekologi lingkungan yang bersangkutan, Drainase ramah lingkungan dikenal dengan slogan drainase TRAP, yaitu: TAMPUNG, RESAPKAN, ALIRKAN, dan PELIHARA.

Memanen hujan merupakan bagian dari drainase ramah lingkungan pada bagian Tampung dan Resapkan. Air hujan ditampung untuk dipakai sebagai sumber air bersih dan perbaikan lingkungan hidup serta diresapkan untuk mengisi air tanah.

Efek memanen air hujan di antaranya adalah berkurangnya banjir, berkurangnya kekeringan, berkurangnya masalah air bersih, berkurangnya penurunan muka air tanah, dan berkurangnya masalah lingkungan.

Heru Tricahyanto, seorang pengusaha muda di Wonosari telah mempraktikkan model drainase ramah lingkungan ini. Secara zonasi, Heru tinggal di zone Ledok Wonosari yang memiliki cukup cadangan air tanah sepanjang tahun. Sumur miliknya belum pernah mengalami kekeringan. Tetapi, ia telah memanen air hujan dengan memanfaatkan aliran air di talang rumah yang dimasukkan ke dalam beberapa bak penampung. Ia pergunakan hasil panenan air tersebut untuk keperluan domestik rumah tangga.

Memanen air hujan dengan bak plastik dan menetralkan PH dengan cara setruman. Dok: KH/Heru Tri

“Selama ini sumur kami belum pernah mengering. Namun, hampir setahun ini air hujan kami tampung, dan menjadi sumber air minum keluarga. Ada yang direbus. Ada yang disetrum. Tidak ada beda rasa dengan air dari sumur. Kami tetap sehat dan bugar,” ungkap Heru.

Warga masyarakat Gunungkidul di kawasan selatan atau yang dikenal zone Pegunungan Seribu sesungguhnya sudah terlatih dan lebih berpengalaman dalam model drainase ramah lingkungan itu. Lahan untuk rumah dan pekarangan yang di kawasan perbukitan dibuat ber-trap atau terasering atau galengan dengan struktur pasangan batu kosong menyesuaikan kontur perbukitan. Trap atau terasering atau galengan tersebut merupakan model kearifan lokal dalam menampung air hujan, agar meresap, mengalirkan ke dalam tanah dan batuan karst. Trap atau terasering tersebut juga berfungsi sebagai upaya konservasi lapis tanah permukaan agar tidak mudah terbawa aliran air.

Bak PAH atau penampungan air hujan hampir telah dimiliki oleh para warga di zone Pegunungan Seribu. Bak PAH model bulat berkapasitas 2-4 ribu liter sebagaimana yang dahulu dipopulerkan oleh proyek teknologi tepat guna LSM Dian Desa tahun 70/80-an masih mendominasi. Demikian pula modifikasi bak PAH model kotak atau bujursangkar dengan kapasitas lebih besar juga telah banyak dibuat secara swadaya oleh masyarakat. Aliran air hujan yang melimpas di atap rumah dan yang tersalur ke talang air dipapen oleh masyarakat dengan ditampung ke dalam bak PAH.

Model pemanenan air hujan yang mula-mula dan alami adalah tampungan air dalam telaga. Terdapat ratusan cekungan tanah di kawasan selatan yang menjadi telaga. Telaga adalah kolam alami pemanenan air hujan. Air telaga tersebut dipelihara dan dikelola untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan air domestik, termasuk kebutuhan air untuk hewan ternaknya.

Itulah cara masyarakat di kawasan pegunungan selatan yang telah mempraktikkan model drainase ramah lingkungan. Mereka telah berpengalaman dalam memanen air hujan dan mengelolanya untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Sayangnya, proyek-proyek revitalisasi telaga yang dilakukan pada saat ini kurang memperhatikan aspek-aspek teknis penyelamatan telaga dan kearifan lokal, sehingga ada beberapa telaga yang telah selesai diperbaiki justru malah mudah asat (kering). Karena pengen menambah volume tampungan, maka dikeruklah lapis tanah penyebab pendangkalan, termasuk lapis filler pembentuk lapis kedap air dasar telaga. Tersingkaplah rongga kapiler atau ponour dari lapis pelindungnya, sehingga menyebabkan air telaga cepat meresap ke bawah tanah. Telaga menjadi lebih cepat mengalami kekeringan. (Jjwidiasta).

***

Referensi: Memanen Air Hujan, Agus Maryono, GMU Press, 2016.

 

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar