Animo Masyarakat Bertransmigrasi Tinggi, Pemerintah Minim Siapkan Lahan

Permukiman Transmigasi Simpang Tiga SP2, Ogan Komering Ilir. Dok: P2MKT Kemenakertrans
Permukiman Transmigasi Simpang Tiga SP2, Ogan Komering Ilir. Dok: P2MKT Kemenakertrans

WONOSARI,(KH)— Animo masyarakat Kabupaten Gunungkidul mengikuti program transmigrasi cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dari banyaknya pendaftar yang tercatat di Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Gunungkidul.

Kepala Seksi Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Bidang Transmigrasi, Dinsosnaketran Gunungkidul, Emi Purwaningsih mengatakan, untuk tahun ini kuota peserta transmigrasi yang diajukan ke pusat sebanyak 30 Kepala Keluarga (KK), namun Gunungkidul hanya mendapat kuota 15 KK .

“Hingga bulan April tercatat ada 25 KK yang mendaftarkan diri untuk mengikuti program tersebut,” kata Emi di ruang kerjanya, Dinsosnakertans Gunungkidul, Jumat (17/4/2015).

Dijelaskannya, untuk tahun 2015, 15 kuota akan diberangkatkan menempati UPT Tanjung Buka Bolongan Kalimantan Utara sebanyak sepuluh KK, sedangkan lima KK lainya akan ditempatkan di Simpang Tiga SP III Kecamatan Tulung Selapan Kabupaten Ogan Komeriing Hilir Sumatera Selatan.

Jika dibandingkan dengan jumlah yang sudah terealisir pada tahun 2014, kata dia, kuota tahun ini meningkat 2 KK. Sedangkan untuk tahun 2013, Dinsosnakertans Gunungkidul mendapat kuota terbanyak dengan memberangkatkan 25 kepala keluarga di beberapa wilayah.

“Jumah kuota yang diberikan pusat, tergantung jumlah lahan yang akan digunakan sebagai lokasi permukiman tranmigran,” terangnya.

Emi mengatakan, jumlah realisasi yang diberangkatkan memang lebih sedikit dari jumlah animo. Menurut data tahun-tahun sebelumnya, banyak pendaftar yang mengurungkan niat ketika waktu pemberangkatan tiba.

“Ketika kita melakukan pengecekan di rumah calon transmigran, alasanya macam-macam, intinya mereka tidak jadi berangkat. Tetapi tidak apa-apa, transmigrasi ini kan tidak memaksa, jadi suka rela saja,” ucapnya.

Emi menjelakan, sebelum pemberangkatan, calon transmigran akan mendapatkan pembekalan. Untuk kaum ibu diberi ketrampilan membuat home industri. Sementara untuk laki-laki diajarkan manajemen produksi pertanian (untuk tanaman pangan) serta diajarkan cara mengoperasikan alat pertanian modern.

Selain itu, saat berangkat, calon transmigran akan dibekali bibit padi, sayur mayur, alat pertanian sederhana, seperti sabit dan  alat pertukangan. “Disana mereka akan menggarap sawah lahan basah. Masing-masing transmigran akan mendapatkan lahan minimal 1 hektar,” katanya.

Untuk memperkenalkan transmigrasi di masyarakat, Emi mengaku, sosialisasi tentang transmigrasi terus dilakukan. Sosialisasi dilakukan 10 kali dalam setahun di daerah-daerah terpilih di Gunungkidul.

“Sampang (Gedangsari), Pilang rejo (Nglipar), Karang Asem, Sidorejo (Ponjong), Giri Wungu (Panggang), Giri Panggung (Tepus) menjadi sasaran sosialisasi kami. Tidak hanya di pinggiraan, kita juga menggelar sosialisasi di kota,” ungkap dia.

Sementara, Kepala Dinsosnakertrans Gunungkidul Dwi Warna Widi Nugroho mengatakan, program transmigrasi memiliki multi manfaat. Sebab program tersebut mampu menerobos isolasi di berbagai daerah. Mempercepat pertumbuhan ekonomi dan memberikan lapangan pekerjaan.

“Kita terus berharap program ini akan membantu meningkatkan hidup masyarakat. Tentunya saja dengan dibarengi kerja keras dan kemauan tinggi,” tambah Dwi. (Juju)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar