“Angluh”: Personalitas Bancak (dan Dhoyok) sebagai Spirit Sendratari Gunungkidul

oleh
Bancak; Pentas Sendratari Kontingen Kabupaten Gunungkidul 2016. KH/Kl.
Bancak; Pentas Sendratari Kontingen Kabupaten Gunungkidul di Festival Sendratari antar Kabupaten-Kota se-DIY Tahun 2016. KH/Kl.

Liyep netra, pracihna nglinanging suksma, angler patra karantan kawelas arsa….”
[Penggalan Cakepan Bagian Tlutur Tata Iringan Sendratari “Angluh” Kontingen Kabupaten Gunungkidul dalam Festival Sendratari antar Kabupaten-Kota se-DIY di Taman Budaya Yogyakarta, 21-22 Oktober 2016]

Angluh, nglumpruk (tanpa daya): inilah gambaran ketubuhan dan emosi Bancak sesaat setelah ia mengalahkan seorang raja dari Bali; menuntut janji Prabu Lembu Amiluhur yang di awal waktu sebelum sayembara bersabda akan mengawinkan siapapun dengan putrinya (jika lelaki), bagi yang mampu mengalahkan raja Bali, namun sang raja mengingkarinya, ketika kontingen sendratari Gunungkidul sebagai penyaji kedua tampil di Festival Sendratari antar Kabupaten-Kota se-DIY di Taman Budaya Yogyakarta Jumat malam 21 Oktober 2016. Mengapa? Mungkin karena Bancak, tentu beserta ‘superkopi’annya yaitu Dhoyok, adalah abdi. Yang ‘sebenarnya’ tidak dikehendaki sang putri. Bukan pasangan-kosmisnya. Ia atau mereka ‘hanyalah’ kawan. Bagi para ksatria, yaitu pasangan para putri.

Ia atau mereka itu panakawan.

Bancak yang panakawan mengikuti sayembara Prabu Lembu Amiluhur untuk siapa saja yang bisa mengalahkan raja Bali (dalam beberapa versi cerita Panji, kraton Kediri berperang dengan Bali, Maluku, atau Kalimantan), karena sang prabu mengalami kekalahan, jika perempuan akan diaku sebagai anak, dan jika lelaki akan dikawinkan dengan putrinya: Dewi Tamioyi. Tuntutan Bancak setelah mampu mengalahkan raja dari Bali itu sebenarnya wajar. Namun sang prabu (mungkin atas permintaan putrinya) mblenjani (ingkar) janji karena Si Bancak buruk rupa. Bancak adalah abdi yang buruk-rupa. Menjumpai kenyataan ini Bancak sesambat (mengaduh). Bancak angluh.

Tokoh Bancak (Widi Pramono, Semanu) Berperang melawan Raja Bali. KH/Kl.
Tokoh Bancak (Widi Pramono, Semanu) berperang melawan Raja Bali. KH/Kl.

Angluh merupakan ekspresi sesambat, mengaduh. Hal ini disebabkan kondisi jiwanya yang angluh pula: rapuh, lungkrah. Ia merasa: seorang abdi memang hanya wong-ngisor, seperti tanaman elung, yang ditendang, tidak dihargai. Pun ia tokoh yang telah mengalahkan musuh kraton. Ia nglangut. Ia kingkin (sedih). Ia memohon ada yang mendengar pasambate (aduhannya). Adegan ketika Bancak dalam suasana tak berdaya, sedih, kingkin, atau nglangut ini menemukan nuansanya ketika Mukhlas Hidayat (Karangmojo) sebagai penata iringan membuat komposisi iringan tlutur (seperti lazimnya iringan gamelan untuk melatari suasana sedih; babonnya adalah ini). Mengikuti konsep ragam tarian Bancak yang mengalami angluh. Gamelan pelog-slendro digunakannya, ditambah rebana dan instrumen reyog-dhodhog (bendhe, angklung). Nuansa musik reyogan a la Gunungkidul telah nampak di awal pementasan sendratari, melatari wiraswara yang nembang: “bebukaning kandha, ing madyaning rananggana….”.  Kala Bancak bertempur melawan seorang raja dari Bali. Di medan tempur. Suasana peperangan yang penuh daya juang selaras dengan sifat-diri iringan bendhe yang soran. Komposisi suara bendhe dan angklung diambil olehnya dari tradisi reyog-dhodhog keprajuritan Gunungkidulan, yang tampaknya memang merujuk pada reyog keprajuritan gaya Kediri (memengaruhi gaya reyog-dhodhog di wilayah Gunungkidul); apalagi di dalam reyog-dhodhog Gunungkidul terdapat penokohan Bancak dan Doyok.

Tokoh Bancak dan Dhoyok dalam Reyog-Dhodhog Gunungkidulan. KH/Kl.
Tokoh Bancak dan Dhoyok dalam Reyog-Dhodhog  Gunungkidulan. KH/Kl.

Interpretasi terhadap reyog-dhodhog Gunungkidulan beriringan dengan interpretasi terhadap seni wayang-dhodhog. Ada bagian-bagian yang disebut sebagai titik-temu di antara keduanya. Yaitu dhodhogan, hentakan, kekagetan: kepanjian yang samar. Maka, tampaknya, Mukhlas “Tubiest” Hidayat (Mukhlas diparabi ‘tubiest’ karena tubuhnya yang tambun itu; laksana tubuh teletubiest yang juga mirip tubuh tokoh Semar, yang akhirnya sebagai penata-iringan terbaik dalam festival ini) sangat paham untuk memunculkan titik-pertemuan ini dalam komposisi iringannya. Ia mengatakan bahwa tata-iringan yang ia-buat pada dasarnya berdasar pada interpretasi umum tentang tema Panji kemudian menyesuaikan tata-tarian yang diciptakan oleh Ayu Pratiwi (Semin), dibantu Widi Pramono (Semanu), serta bimbingan Yestriyono Piliyanto (Panggang).

Dalam kegiatan pendampingan pra-festival pun, Yestriyono Piliyanto, seniman tari asal Panggang yang ditunjuk Taman Budaya Yogyakarta sebagai pembimbing, secara berulang memberikan penekanan materi tentang sifat khas cerita Panji dan bagaimana menafsirkannya dan mewujudkannya dalam bentuk gerak tari: bahwa dengan adanya penokohan Bancak dan Doyok dalam sendratari kali ini mau tak mau tim produksi harus memunculkan nuansa ‘kesedihan’, nglangut, ketakberdayaan di atas. Itulah kedirian Bancak-Dhoyok. Sama halnya ketika, dengan nada yang tinggi dan nglangut, Bancak-Dhoyok nembang untuk menghibur Sang Ksatria pada suatu waktu ketika Sang Ksatria kalah berperang dalam adegan Reyog Dhodhog Gunungkidul yang sedang beber di lapangan desa saat upacara rasulan. Judul garapan “angluh” pun akhirnya, dalam kemepetan waktu, terpilih. Angluh adalah personalitas para tipe panakawan. Yang sipit matanya. Yang besar hidungnya. Yang menangis. Yang sedih. Yang arsa (menginginkan) Dewa (baca: Langit) dengan welas memberikan (manglungake; ngulungake) bantuan. Bancak sambat. Ditujukan pada dirinya sendiri. Pada Dewa. Ia angluh, ngeluh. Meneteskan luh (air-mata).

Tokoh Dewi Tamioyi (Fitra, Nglipar) di Keputren. KH/Kl.
Tokoh Dewi Tamioyi (Fitra, Nglipar) di Keputren. KH/Kl.

Momen ketika luh menetes lantas menetaskan jawaban: Langit hadir. Mengabarkan mata-air (petunjuk). Tokoh Narada hadir menjawab sambat Si Bancak. Narada memberikan bantuan. Agar ia bisa bersatu dengan Dewi Tamioyi Narada mengubah wujudnya menjadi seorang ksatria yang bagus rupa. Bancak memasuki taman kaputren dengan kemantapan hati, menjumpai Dewi Tamioyi. Gembira hatinya. Wuyung yang ada. Nuansa adreng cinta-kasih digambarkan dalam adegan percintaan antara Bancak yang berwujud Satriya Bagus dan Dewi Tamioyi. Dalam rajutan gendhing ketawang Bancak terpesona pada Sang Dewi, “Dhuh Wong Ayu pujaningsun, turutana brangtaningwang….!” Dengan nyekar tembang macapat Mijil, Dewi Tamioyi membalas, “Adhuh Raden marma nyaketa glis, trataban wak ingong…” Namun Prabu Lembu Amiluhur mengetahui hal ini. Peperangan antara Amiluhur dan Bancak terjadi. Amiluhur memiliki seorang jago ksatria bagus pula. Satriya-Bagus berperang dengan Satriya-Bagus. Dua tokoh yang identik namun berbeda. Seumpama Ismaya dan Antiga. Laksana the twins dalam narasi-kuno Eropa. Dua yang satu. Peperangan di antara keduanya digambarkan dengan ragam tari yang gecul; peperangan yang lucu. Yang konyol. Mereka ungel-ungelan, pithing-pithingan, pidak-pidakan. Bukan layaknya peperangan dua ksatria yang pandai olah yuda (peperangan).

Memang, personalitas Bancak (dan Dhoyok) itu lucu. Personalitas ini dicoba dihadirkan dalam pementasan oleh Widi Pramono (Sutradara pementasan merangkap pemain; Semanu) dengan gerak tarinya. Termasuk dalam ragam peperangan itu. Bancak diinterpretasikan olehnya (tentu berdasar interpretasi-interpretasi yang pernah dilakukan oleh para seniman sebelumnya, juga informasi dari para nara sumber), yang sekarang baru menginjak semester 3 di Institut Seni Indonesia, bernuansa orang-bawahan yang memiliki sifat gecul. Gecul adalah sifat sang diri yang dekat dengan istilah lucu, lugu, namun juga konyol. Nuansa penuh kesedihan tentu tak ketinggalan.

Interpretasi Tokoh Bancak (Widi Pramono, Semanu). KH/Kl.
Interpretasi Tokoh Bancak (Widi Pramono, Semanu). KH/Kl.

Roh atau spirit, atau anima, atau motor-penggerak-purwa, semacam gecul (lucu, gembira) namun angluh (sedih) serta angreyok (sorak, ramai) namun mancer (sakral-serius) inilah tampaknya yang menggerakkan kontingen sendratari Gunungkidul mampu menyajikan tema Panji dengan baik. Tengok saja misalnya spirit-purwa iringan reyog dhodhog, yang menurut penulis tak benar-benar ‘dimiliki’ oleh kabupaten-kota lain di DIY, karena memang reyog-dhodhog cenderung ‘khas’ Gunungkidul, secara purwa-sadar atau sadar dihadirkan dalam bentuk ragam tari yang ‘ngGunungkidul’, atau dalam bentuk ‘alih-ubah’ iringan reyog-dhodhog yang ngGunungkidul pula.

Reyog-dhodhog Gunungkidulan, dengan demikian, adalah personalitas Gunungkidul. Persona adalah pancaran kesejatian; sifat-sifat purwa yang ‘dengan kesadaran’ dibawa-serta oleh para person-nya; para pendukungnya. Diwujudkan tarian dan musik gamelan. Meskipun yang lebih mengetahui tentang spirit purwa dhodhogan ini, berdasar analisis-analisis yang mencoba mendekati ‘kenyataan’ bagaimana pentas kontingen sendratari Gunungkidul itu seperti apa, ya para yuri sendiri. Yang secara legal-sah sebagai kritikus seni. Dewan yuri yang terdiri dari: Dr. Sumaryono, M.A., Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, Dr. Supadma, M.Hum., Agung Harwanto, S.Sn., dan Dra. B. Sri Hanjati, M.Sn. tentu memiliki alasan yang menurut argumentasi mereka kuat mengapa kontingen sendratari Gunungkidul pada tahun 2016 ini, yaitu pada festival sendratari antar kabupaten-kota se-DIY yang ke-40 yang telah berlangsung sejak tahun 1975 (kecuali tahun 2006 waktu ada gempa di Yogya tak ada festival), menjadi juara umum. Keputusan dewan yuri yang untuk ‘pertama’ kalinya memenangkan kontingen Gunungkidul sebagai juara umum di ajang festival sendratari antar kabupaten-kota se-DIY (setelah sekian tahun sejak tahun 1976 kontingen Kabupaten Gunungkidul mentok di peringkat II) terasa ‘kontras’ bahkan ‘ambigu’ dengan pemilihan judul angluh yang dipilih. Antara kebahagiaan dan keharuan. Namun justru barangkali ide-dasar tentang ‘kontras’ (seperti yang diungkapkan Mukhlas melalui komposisi iringannya), ‘ambiguitas’, kontradiksi, serta paradoksi lah yang berhasil dicari, dielaborasi, dieksplorasi, dan dimunculkan oleh kontingen sendratari Gunungkidul secara keseluruhan.

Dr. Sumaryono, M.A. sebagai ketua dewan yuri dalam penyampaian catatan-catatan festival sendratari tahun ini juga menyinggung masalah ‘ambiguitas’: seni pertunjukan yang multi-tafsir multi-interpretasi. Apalagi seorang seniman biasanya ‘kurang’ melakukan riset-ilmiah (studi pustaka tentang kepanjian dari Negarakertagama misalnya), terlalu disibukkan ber-peye, sehingga ketajaman menafsirkan suatu simbol dalam Panji terkadang kurang mendalam. Kesejajaran antara catatan dewan yuri dengan apa yang dimunculkan oleh kontingen sendratari Gunungkidul (yang menurut penulis telah berhasil meriset personalitasnya sendiri) inilah barangkali yang menjadikan pementasannya seakan mampu memunculkan ‘keambiguitasan’ Bancak-Dhoyok; bahkan mampu melampaui keambiguitasan makna permukaan tema sendratari tahun ini, yang mampu menyingkap sebuah ‘ketidak-jelasan’ menjelma ‘kejelasan’ di akhir adegan: dua ksatria ‘kembar’ (the twins) itu sebenarnya siapa. Tujuannya apa. Apa spirit dasarnya. Dua ksatria yang memperebutkan seorang putri. Yang tak bukan adalah Bancak-Dhoyok. Bancak-Dhoyok harus badhar dari penopengannya sebagai penubuhan-sementara (personalitas-semu): satriya-bagus.

Dalam festival sendratari bertema cerita Panji pada tahun ini semua penari dari 5 kabupaten-kota menggunakan topeng; seperti halnya penggunaan piranti topeng dalam genre Langendriyan pada umumnya. Penari bertopeng atau menari dengan memakai topeng (yang menjadikan penari berjarak dengan panggung secara inderawi) tentu lebih sulit dibanding menari tanpa topeng. Hal ini, menurut Dr. Sumaryono, M.A., menjadikan penari pating gragap dengan kondisi sekitarnya. Berlatih secara intens nggagapi kondisi sekitar dengan olah-rasa adalah pilihan terbaik. Para penyaji sendratari yang mampu mengatasi tantangan ‘topeng’ inilah yang bisa membawakan tarian-topeng dengan baik. Membawakan perannya dengan bagus. Seperti pengetahuan filsafat pada umumnya, penopengan pada dasarnya adalah penyamaran. Samar-samar merupakan tantangan dan jalan, sekaligus tujuan akhir dengan realitas-akhir (misal kata-kata tan samar pamoring suksma…… di dalam tembang macapat/sulukan wayang). Penopengan-diri atau penopengan-sosial, dalam istilah dalam ilmu psikologi modern, merupakan jalan personalitas. Satriya-bagus merupakan telangkai berbentuk wewayangan atau tetiron atau kembaran (dalam psikologi Barat disebut the shadow) bagi Sang Diri yaitu Bancak dan Dhoyok dalam rangka mancer (mencari jati diri). Gerak ke luar dari Diri merupakan konduktor untuk menuju ke dalam Diri: melalui pengembaraan bentuk. Pola pencarian jatidiri dengan teknik ngumbara kemudian bertemu kembaran, terkadang disebut juga Si Umbaran, merupakan pola-proto yang lazim terdapat di alur-naratif wayang Jawa.

Bancak dan Dhoyok dalam Rupa Satriya-Bagus Berebut Dewi Tamioyi. KH/Kl.
Bancak dan Dhoyok dalam Rupa Satriya-Bagus Berperang Memperebutkan Dewi Tamioyi. KH/Kl.

Untuk dapat mencapai persatuan-diri, pemanunggalan, atau pamanuksma, Bancak-Dhoyok diadu-kumba, diadu dengan ‘tiruannya’. Dengan ‘saudara’nya. Seperti Mahesasura dengan Jatasura dalam pewayangan. Atas kehendak Dewa (Langit). Peperangan antara dua tubuh satriya-bagus merupakan jalan persatuan Sang Diri. Agar sang tokoh benar-benar tahu tentang dirinya. Tentang paradoksi-personanya: yang tunggal namun kembar, yang bagus namun elek; yang satriya namun sebenarnya kawula; yang ‘memenangkan’ namun ‘dikalahkan’. Yang angliyep matanya namun awas. Begitu seterusnya. Tetembangan: “Minangka pungkasaning, cinekak reroncening, badhar sejatining lampah….,” merupakan penggalan adegan penutup sajian sendratari kontingen Kabupaten Gunungkidul: yang abdi harus badhar (pulih, pulang) dari topengnya. Sang Tokoh ‘harus’ kembali ke diri-asal. Yaitu Bancak-Dhoyok yang panakawan, yang kawula (rakyat), yang gecul (lucu, penghibur),

Barangkali para bancak, dengan persona-bawaannya masing-masing, tetaplah harus menjalankan dharma-nya sebagai abdi, yang keutamaannya adalah ‘melayani’. Para bancak yang bukan melulu hendak meraih prestasi; menyanding sang permaisuri; mengangkat tropi. Tinggi-tinggi. Para pendukung sendratari kontingen Gunungkidul seperti Widi, Fitra, Ayu Pratiwi, Yestri, Muchlas “Tubiest”, dan tim produksi yang lain, termasuk penanggung jawab kontingen sendratari Dinas Kebudayaan Gunungkidul Pak Restu, sadar akan hal ini. Para pribadi (persona) yang ‘siap’ nrima (menerima) keperanan dan keagenannya. Mereka para panakawan di bidangnya.

Seperti yang diungkapkan oleh Si Penata Iringan, Mukhlas “Tubiest” Hidayat, setelah pengumuman hasil lomba usai, bahwa kebahagiaan, ketidak-menyangkaan sebagai juara umum, merupakan ‘impian yang jadi kenyataan’ selama mengabdi di bidang kesenian di Gunungkidul, khususnya sendratari. Merupakan krenteg para personal pendukung kontingen sendratari Kabupaten Gunungkidul dari dulu agar bisa sejajar dengan kabupaten-kota lain di DIY. Karena bisa dikatakan setiap garapan yang disajikan oleh kontingen sendratari Gunungkidul di setiap tahunnya seakan hanya dianggap timun-wungkuk, penggenap, bagi kontingen kabupaten lain. Proses produksi sendratari “angluh” yang didukung kurang lebih 18 penari dalam sebuah tim produksi yang semua berjumlah 40-an lebih, berlatih 12 kali selama kurang lebih satu bulan. Seseg waktu dan geraknya. Para pendukung meraih 3 penghargaan perorangan yaitu Sutradara Terbaik (Widi Pramono, Semanu), Penata Tari Terbaik (Ayu Pratiwi, Semin), dan Penata Iringan Terbaik (Mukhlas Hidayat, Karangmojo) sehingga menjadikan kontingen sendratari Gunungkidul meraih juara umum. Raihan ini, ungkap Mukhlas dengan emosional (haru), semoga menjadi pancadan (pijakan) di waktu berikutnya agar Gunungkidul tak ‘diremehkan’ di ajang festival sendratari, yang bersama-sama para pendukung dari kabupaten-kota lain telah bekerja keras demi kemajuan seni-budaya di DIY.

Para Pemeroleh Penghargaan Perorangan, Beberapa Pemain Pendukung, dan Tim Produksi Kontingen Sendratari Gunungkidul. KH/Kl.
Para Pemeroleh Penghargaan Perorangan, Beberapa Pemain Pendukung, dan Tim Produksi Kontingen Sendratari Gunungkidul. KH/Kl.

Mereka, tak lain, adalah abdi kebudayaan, meski terkadang dalam kondisi angluh (penuh-sambat), yang mereka hanya sebagai para seniman bukan perangkat-negara, berkesenian dengan penuh semangat dimana pun mereka tinggal untuk terus ‘menjadi’, berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan pelestarian, pembinaan, serta pengembangan seni budaya di DIY khususnya sendratari Gunungkidul dengan segala ‘keterbatasannya’ di banyak lini, menjaga api kreatifitasnya agar tak lekas mati.

Berbarengan dengan tetes luh di ujung malam itu yang tak tertahan lagi.

[KH/Kl]

 

 

Komentar

Komentar