Angka Bunuh Diri Tinggi, Kapolres: Ada Warga Beresiko Depresi, Laporkan!

oleh
ilustrasi. Dhadhung, kala, jerat, tali. KH/WG

WONOSARI, (KH),– Peristiwa bunuh diri selalu terjadi di Gunungkidul dalam setiap tahunnya. Selama kurun waktu satu tahun rata-rata terdapat 30-an tragedi bunuh diri.

Seperti pada tahun 2017 yang baru saja berakhir, Polres Gunungkidul mencatat telah terjadi 34 tindakan bunuh diri dan percobaan bunuh diri. Jumlah ini meningkat 1 kejadian lebih banyak dibanding tahun lalu, yakni sebanyak 33 kejadian percobaan dan tindakan bunuh diri.

Dalam paparan pada akhir Desember 2017 lalu, Kapolres Gunungkidul, Ahmad Fuady, S.H., S.IK, M.H., merinci, pada tahun 2016 ada 31 tindakan bunuh diri dan 2 kali percobaan bunuh diri. Dari 31 tindakan yang ada, 28 kali kejadian tercatat dengan cara gantung diri. Sementara 2 lainnya dengan terjun ke luweng dan 1 lagi sisanya terjun ke dalam sumur.

Sementara di tahun 2017, peristiwa bunuh diri dengan gantung diri ada sebanyak 29 kejadian. Lantas 1 tragedi lainnya dilakukan pelaku dengan menceburkan diri ke sumur. Sedangkan jumlah percobaan bunuh diri di tahun 2017 mengalami peningkatan yakni terdapat 4 kali percobaan bunuh diri.

Dari data tahun 2017, jumlah tertinggi kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri berada di Kecamatan Playen.

Menanggapi hal tersebut, berdasar catatan peristiwa demi peristiwa, Kapolres berpendapat, bahwa para pelaku memilih tindakan tersebut setelah ada guncangan fikiran atau depresi akibat berbagai permasalahan multifaktoral.

“Umumnya adanya faktor sakit menahun, permasalahan sosial, ada pula persoalan asmara,” terang Kapolres.

Untuk mengantisipasinya, lanjut Kapolres, masyarakat diajak semakin peka terhadap perubahan perilaku warga di lingkungannya. Jika mengetahui ada warga yang beresiko mengalami depresi maka diharapkan segera melaporkan.

“Minimal ke pak RT, atau ke kami melalui Bhabinkamtibmas. Misalnya ada warga yang sakit menahun, kena PHK, atau putus cinta dan dicurigai mengalami depresi silahkan dilaporkan!,” pinta Kapolres. Dengan begitu, tokoh warga di wilayah yang terdapat orang dengan resiko depresi agar melakukan pengawasan bahkan segera mengambil langkah tindak lanjut.

Sementara itu, dalam banyak kesempatan lain, Psikiater RSUD Wonosari, dr. Ida Rochmawati, MSc., Sp.KJ (K) mengajak masyarakat menerapkan tiga langkah sederhana untuk menanggulangi atau menekan tingginya fenomena bunuh diri.

Uarinya, gerakan sederhana yang dapat dilakukan masyarakat luas yakni; lihat, dengar, dan sambungkan. ‘Lihat’, berarti kesediaan mengamati lingkungan sekitar, apakah ada orang yang memiliki faktor resiko mengalami depresi.

Apabila dengan melihat ada timbul kecurigaan yang mengarah pada seseorang maka sebaiknya di ‘dengar’ atau berupaya memperoleh informasi sebanyak mungkin terhadap orang yang dicurigai tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa kuat faktor resiko yang dimiliki. Mendengar atau memperoleh informasi dapat melalui orang terdekat atau secara langsung. Jika memungkinkan, komunikasi secara langsung justru dapat meredakan depresi yang dialami seseorang.

“Lantas kemudian ‘sambungkan’, yakni tindakan menyampaikan informasi tersebut kepada pihak yang berkompeten, seperti rumah sakit, pusat kesehatan, atau dokter serta pihak lain yang bisa menangani masalah depresi dan kesehatan jiwa. Sebelumnya, ada baiknya diajak komunikasi secara dekat. Sebab, komunikasi secara akrab dapat menolong orang yang mengalami depresi atau fikiran yang sedang kacau,” papar Ida. (Kandar)

Komentar

Komentar