Anak Yang Terbiasa Merawat Mendahului Pergi, Kakek Renta Bunuh Diri

oleh
Suasana Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunungkidul.

PANGGANG, (KH),– Minggu, (13/5/2018) kemarin peristiwa bunuh diri terjadi di Padukuhan Mendak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunungkidul. Seorang warga sepuh, Kerto lesono (95) ditemukan cucunya gantung diri di teras rumah.

Penuturan saksi di lokasi kejadian, sebagaimana dihimpun anggota Polsek Panggang, peristiwa tersebut terjadi pukul 05.00 WIB. Kapolsek Panggang AKP Dani Purnama SH, merilis informasi bahwa berdasar hasil pemeriksaan medis tidak ada tanda-tanda kriminalitas.

Melewati serangkaian pemeriksaan, jenazah lantas diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan. Sebelum peristiwa tersebut terjadi, tak nampak ada yang aneh pada diri Kerto Lesono. Kesehatan fisiknya baik-baik saja. Tak seperti kejadian pada umumnya, pelaku mengalami sakit fisik yang berujung depresi lalu bunuh diri.

Sementara itu, Kasi Pelayanan Pemerintah Desa Girisekar, Nugroho, secara mendalam mengungkap cerita kisah  Kerto Lesono. Beberapa yang disebutkan bertujuan untuk mengetahui dugaan penyebab kekalutan fikiran Kerto Lesono sehingga berujung pada tragedi bunuh diri.

Urai Nugroho, atas kondisi umur yang telah renta, Kerto Lesono tak mampu lagi leluasa beraktivitas. Dalam satu rumah ia tinggal bersama anak, menantu serta cucunya. Dalam keseharian, ia dilayani oleh anak kandungnya.

Berdasar pandangan warga sekitar, anak kandungnya merupakan anak yang sangat berbakti. Seolah mengetahui segala kebutuhan dan keinginan Kerto Lesono. Pada titik itu kehidupan berjalan normal. Peran masing-masing dapat dilaksanakan secara seimbang.

Meski kondisi Karto Lesono telah berusia lanjut bukan merupakan suatu permasalahan bagi keluarga tersebut. Sebab, tanggung jawab merawat dapat diatasi oleh anak kandungnya. Karto juga nampak menjalani hari-hari tanpa beban. Menerima kenyataan melakoni hidup di usia senja sebelum ajal menjemput.

“Sekitar setahun lalu, anak (kandung) Kerto Lesono mendahului pergi. Karena sakit ia meninggal dunia,” tutur Nugroho.

Dirinya menaruh curiga ada kemungkinan peristiwa meninggalnya anaknya tersebut menjadi salah satu pemicu kesedihan yang mendalam bagi Karto Lesono. Perubahan drastis atas kondisi yang ia alami memang oleh warga sekitar secara sekilas tak nampak.

“Tetapi dia pernah mengeluh bahwa sudah bosan hidup. Pernah bilang sudah sangat tua kok tidak mati-mati,” sambung Nugroho.

Oleh yang mendengar, keluhan Karto tersebut dianggap biasa saja. Sebab usianya memang sudah sangat renta. Bahkan di dusun setempat ia menjadi orang yang berusia paling tua.

Nugroho melanjutkan, semenjak ditinggal mati anaknya, ia kemudian dirawat cucu dan menantunya. Sepertinya, dugaan Nugroho lagi, Karto belakangan mengalami kesulitan hubungan dengan mereka.

Hal lain, ada kebiasaan yang menunjukkan ketidakpuasan Karto. Ketidakpuasan tersebut mengenai arahan kepada menantu dan cucunya dalam hal menggarap ladang miliknya. Hingga ia beberapa kali nampak turun tangan berangkat ke kebun.

Maksud hati mungkin ingin mengerjakan banyak hal untuk mengolah ladang, namun apa daya kondisi fisik tak lagi mendukung. “Biasanya ya hanya bersih-bersih kebun. Tindakannya bunuh diri benar-benar membuat kaget,” tutur Nugroho.

Meski kepulangannya secara tidak wajar, oleh warga sekitar, jenazah Karto sebelum dikebumikan juga diperlakukan sama seperti orang meninggal pada umumnya. Suasana kaget juga tak berlarut-larut menghantui warga.

Meski mengundang penuh tanya, kematian Karto tak lantas dikaitkan dengan hal-hal mistis. “Kalaupun ada sudah sangat jarang ada yang menganggap begitu,” tandas Nugroho. (Kandar)