Anak-anak Muda Ini Gigih Kelola Internet Berbasis Komunitas

oleh
Bilal Surahman dkk dari Pilangrejo Nglipar merintis jaringan internet berbasis komunitas. KH/Kandar.

NGLIPAR, (KH),РBerawal dari usaha servis komputer dan perkakas elektronik, empat pemuda Dusun Ngangkruk Desa Pilangrejo Nglipar ini gigih mengelola jaringan internet berbasis komunitas.  Memanfaatkan kondisi geografis dusun mereka yang berada di puncak perbukitan Batur Agung, mereka menyediakan layanan jaringan internet ke berbagai titik rumah penggunanya dengan teknologi internet nirkabel.

“Dusun kami berada di bawah puncak Bukit Magir, puncak bukit tertinggi di Gunungkidul. Sederhananya, kami memanfaatkan posisi geografis ini sebagai titik pusat untuk memancarkan gelombang radio yang berisi data internet ke berbagai titik pengguna internet,”¬†ujar Bilal Surahman salah satu pendiri komunitas rintisan RT-RWnet tersebut.

“Para pengguna itu menjadi komunitas yang secara bersama-sama mempergunakan layanan internet yang kami distribusikan secara swadaya. Populernya ini semacam RT-RWnet. Kami menggunakan layanan internet dari salah satu provider, kemudian kami transmisikan kembali ke rumah-rumah para anggota RT-RWnet kami,” imbuhnya.

Bilal mengungkapkan, ia dan kawan-kawannya yang tinggal di kawasan lereng perbukitan desa benar-benar merasakan keterbatasan dalam berbagai hal. Kondisi geografis rumah tinggal mereka menjadikan tantangan tersendiri untuk bepergian ataupun berkomunikasi. Sebagai anak-anak muda yang tidak ingin tertinggal dengan daerah lain yang memiliki kemudahan teknologi informasi, mereka berupaya mencari jalan keluar.

“Hadirnya kemudahan berinternet di tempat kami tinggal telah mendorong munculnya berbagai kreativitas usaha dan jualan secara online. Meski di pedesaan, kami tidak ingin ketinggalan untuk ikut berbisnis secara online. Entah dagang berbagai jenis cemilan maupun kerajinan tangan, kami juga dapat mempromosikan tempat-tempat wisata dan jasa pemandu wisata,” sambung Bilal.

Diluar manfaat untuk usaha atau dagang, Bilal juga mengungkapkan manfaat edukatif dan manfaat sosial kemudahan mengakses internet di komunitasnya. Anak-anak yang masih sekolah lebih mudah mengakses bacaan dan referensi lanjut untuk menunjang pembelajaran di sekolah. Masyarakat umum juga lebih cepat mendapatkan aneka informasi yang berkembang setiap hari.

“Saat memasang dan melakukan setting jaringan internet di rumah-rumah anggota komunitas pengguna internet, kami juga berikan penjelasan bagaimana mempergunakan internet secara positif. Kami sering diminta bantuan melakukan setting jam penggunaan internet untuk masing-masing rumah. Di sini kami merasakan, ternyata hal-hal yang baik dan mendidik dapat kami sampaikan ke anggota komunitas kami. Bagaimana menggunakan internet untuk menunjang pelajaran, menunjang usaha kecil, mendapatkan berita dan informasi yang sehat dan mendidik,” imbuh Bilal.

Komunitas rintisan RT-RWnet ini sebelumnya berawal dari kumpulan anak-anak muda Dusun Ngangkruk Pilangrejo yang membuka usaha servis komputer dan perkakas elektronik. Bilal, Danang, Winda, dan Rais adalah empat anak muda dari dari perdesaan yang gigih dan ulet membangun rintisan usaha berbasis komunitas. Latar belakang mereka beragam. Ada yang memang berlatar belakang sekolah kejuruan elektronika dan jaringan internet. Selebihnya mereka otodidak belajar mengembangkan layanan jaringan internet, sehingga dapat berkembang seperti saat ini.

Bilal menyebutkan, “Saat ini kami melayani sekitar 40 anggota komunitas pengguna internet. Masing-masing anggota menanggung pembelian dan pemasangan peralatan yang diperlukan, serta biaya bulanan internet ke ISP. Sudah hampir setahun kami membangun jaringan ini. Kebutuhan kami dapat tercukupi dari iuran anggota komunitas untuk keberlangsungan operasional dan perawatan jaringan RT-RWnet ini.”

Anggota komunitas internet ini sebagian besar adalah rumah tangga yang bermukim di seputar wilayah Nglipar. Perkembangan terakhir, Bilal tidak menyangka ternyata ada permintaan menjadi anggota komunitas internet yang tinggal cukup jauh, dari wilayah Karangmojo, Semanu, Wonosari, Playen, dan Paliyan.

Ketika ditanya pengalaman menarik mengelola internet berbasis komunitas, Bilal menceritakan, ia dan teman-temannya bisa belajar dari nol. Mereka belajar dari nol mulai dari jaringan internet sampai dengan penyediaan bahan dan pemasangan konstruksi tower untuk jaringan internet. Mereka juga belajar bagaimana mengelola anggota komunitas, melayani kebutuhan atau keluhan yang disampaikan, sehingga mereka juga berkesempatan belajar mengelola organisasi komunitas.

Apapun dan bagaimanapun capainnya dalam menembus keterbatasan dan kesulitan, kreativitas anak-anak muda dari perdesaan kawasan utara Gunungkidul ini patut mendapatkan apresiasi. (Kandar).

 

Komentar

Komentar