Alami Sakit Mata Sejak Lahir, Tak Surutkan Semangat Dicky Ardiansah Belajar

oleh
Dicky Ardiansah. KH/ Kandar.

KARANGMOJO, (KH),– Meski tak bisa beraktivitas leluasa seperti anak lainnya, tak membuat Dicky Ardiansah (13), siswa SD Candi Baru 2, Desa Jatiayu, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul patah semangat.

Ia tetap rajin berangkat sekolah, meski kedua matanya mengalami kelainan. Kedua mata Dicky selalu nampak memerah. Ia lebih sering berkedip karena gangguan kesehatan matanya itu. Karena gatal, Dicky juga sering mengucek matanya.

“Silau dan Gatal kalau terkena sinar matahari,” kata dia didampingi guru kelasnya, Sukarsi Setyaningsih belum lama ini. Berdasar pengakuannya, Dicky mengalami sakit mata sejak lahir. Saat mengikuti pembelajaran di kelas ia duduk paling depan. Sebab, jarak pandangnya terbatas.

Meski begitu, jarang Dicky absen dengan alasan sakit mata. Ia tetap gigih belajar karena tahun ini merupakan tahun kelulusan baginya. Dicky mengaku akan  melanjutkan ke jenjang SMP.

Mengenai sakit matanya, karena berbagai kendala dan alasan ekonomi, upaya pengobatan yang semestinya ditempuh keluarga Dicky tidak maksimal. Sempat beberapa kali diperiksa di Puskesmas saja. Selain itu juga sebatas dibelikan obat tetes mata di toko atau apotik. Seperti diketahui, kondisi keuangan orang tua Dicky yang tinggal di Dusun Ngringin, Desa Jatiayu cukup pas-pasan.

Selain itu, ayah Dicky merupakan penyandang disabilitas. Ayahnya, Sugiyanto seorang tuna wicara. Komunikasi dengan orang lain cukup terkendala. Sementara ibunya berada di perantauan. Praktis, menjadi kendala upaya pengobatan mata yang semestinya dapat dijalani Dicky. “Saya ingin normal dapat melihat seperti teman-teman yang lain,” kata bocah yang bercita-cita menjadi pemain bulu tangkis ini polos.

Guru Kelas, Sukarsi Setyaningsih mengaku bahwa sekolah telah mengupayakan agar Dicky dapat mengakses pengobatan medis. Sebelumnya ada pemeriksaan mata dari rumah sakit khusus mata kepada siswa di Gunungkidul.

Pihak sekolah juga mengantar Dicky ke kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) yang menjadi tempat pemeriksaan. “Hasilya Dicky didiagnosa bahwa struktur organ matanya tidak terbentuk sejak lahir,” ujar Sukarsi Setyaningsih.

Dicky Ardiansah berada di depan rumah. KH/ Kandar.

Sambung Sukarsi, Dicky diminta segera menjalani pemeriksaan lanjut di RS YAP atau RS Sardjito, Yogyakarta. Biaya pengobatan dapat ditanggung KIS dengan membawa rujukan dari Puskesmas, RSUD dan rekomendasi Disdikpora.

“Sayang yang mencarikan rujukan dan mengantar Dicky tidak ada,” kata Sukarsi. Pihak sekolah mengaku tak mampu optimal membantu proses pengobatan mata Dicky. Pihaknya sebatas menyampaikan saran dan arahan ke orang tua dan kerabat keluarga Dicky. Namun, hingga saat ini proses pengobatan lanjutan belum juga terlaksana.

“Untuk siswa lain yang mendapat pemeriksaan mata bersama-sama sudah mendapat kacamata dan penanganan lanjut. Sementara Dicky belum,” tukas Sukarsi. (Kandar)

Komentar

Komentar