Air Telaga Boromo Amblas Di Luweng, Berikut Pendapat Pakar

Telaga Boromo. insert: lubang tanah atau Luweng/ Ponor. KH

PALIYAN, (KH),– Telaga Boromo yang terkenal airnya awet sepanjang tahun tiba-tiba amblas. Telaga yang berada di perbatasan dua desa, Desa Karangasem Kecamatan Paliyan dan Desa Kepek Kecamatan Saptosari ini membuat kaget warga di sekitarnya.

Mulanya, pada salah satu sudut telaga diketahui muncul adanya pusaran air. Lama kelamaan air meresap. Memang tidak sampai habis, akan tetapi volume yang menyusut dinilai cukup banyak.

Kejadian diketahunya air telaga menyusut sejak Kamis, (30/11/2017). “Harusnya saat hujan deras seperti beberapa waktu sebelumnya air melimpah, karena masuk ke lubang, air tinggal separuh dari jumlah yang seharusnya,” ujar Pardi, warga yang tinggal di sekitar telaga.

Pusaran air yang ditengarai sebagai titik amblasnya air disebut-sebut warga merupakan Luweng. Lubang tanah di sudut dasar telaga tersebut seolah menelan air telaga masuk ke lapisan tanah yang lebih dalam.

Fenomena yang tak biasa ini membuat ratusan warga di sekitar telaga berduyun-duyun menyaksikan. Semua tak mengira hal tersebut akan terjadi. Telaga kebanggaan yang sejak puluhan tahun silam airnya terkenal awet disaksikan raib ke perut bumi melalui luweng yang diperkirakan memiliki ukuran 2 x 1 meter tersebut.

Dimintai pendapat atas peristiwa ini, Anggota Kelompok Studi Karst Fakultas Geografi UGM, Ahmad Cahyadi, M.Sc, mengungkapkan, telaga di kawasan karst terbentuk pada cekungan di antara bukit-bukit karst.

Dipaparkan, proses pelarutan menyebabkan terbentuknya lubang yang menghubungkan antara bagian permukaan dengan sungai bawah tanah. Lubang ini dikenal dengan istilah luweng atau ponor. Proses sedimentasi hasil erosi di perbukitan di sekitarnya menyebabkan lubang ponor tersumbat.

“Kemudian lama kelamaaan akan membentuk lapisan yang hampir tidak tembus air (impermeable), karena kandungan tanah yang bertekstur lem poo ung memadat dalam waktu lama.  Kondisi ini kemudian menyebabkan cekungan tidak punya lubang pengatus dan terbentuklah telaga,” terang Ahmad Cahyadi.

Sambung dia, proses hujan yang sangat deras belakangan ini menyebabkan volume air di telaga menjadi sangat besar,  sehingga menekan bagian lapisan impermeable. Kondisi ini memungkinkan terbukanya luweng atau ponor di bagian bawah telaga, sehingga air telaga menjadi berkurang atau habis masuk ke dalam sistem bawah tanah.

“Kondisi ini pernah terjadi juga di Telaga Mataendra di Panggang tahun 2012,” tukasnya. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar