Air Sungai Oya yang Keruh Diolah Menjadi Air Minum

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Intalasi Pengolahan Air PDAM Unit Gedangsari. Mengolah air Sungai Oya menjadi air bersih siap distribusi. | KH/Awd.

GEDANGSARI, (KH),– Mungkin belum banyak yang mengetahui, bahwa air Sungai Oya yang kadang berwarna keruh kecoklatan itu mampu diolah menjadi air bersih dan bahkan menjadi air minum. PDAM Tirta Handayani selaku BUMD milik Pemkab Gunungkidul telah mengoperasionalkan unit produksi air bersih dari air sungai permukaan, yaitu di unit Gedangsari dan unit Bunder. Unit Gedangsari melayani pelanggan di sebagian wilayah Gedangsari, dan Nglipar, sementara unit Bunder melayani pelanggan di sebagian wilayah Playen.

Unit Kerja PDAM di Gedangsari yang berada di Desa Ngalang Kecamatan Gedangsari menjadi salah satu unit produksi yang mengolah air sungai permukaan tanah dari Sungai Oya menjadi air bersih siap terdistribusi ke pelanggan. Ai sungai Oya yang terkadang keruh kecoklatan saat musim penghujan itu diproses melalui instalasi penjernihan menjadi air yang jernih, bening dan didistribusikan ke pelanggan PDAM melalui jaringan perpipaan.

“Kapasitas produksi kami mencapai 10-11 liter per detik. Air PDAM yang kami hasilkan justru lebih terjaga kualitasnya. Kami selalu melakukan pemeriksaan terhadap proses produksi, sehingga air yang terdistribusi ke pelanggan di Gedangsari dan Nglipar ini selalu terjaga kualitasnya. Operator yang ada juga sudah terlatih untuk mengatur setting proses penjernihan air secara mekanis dan secara kimiawi,” ungkap Lukas, pegawai PDAM yang bertugas di Unit Gedangsari.

Lebih lanjut ia menegaskan, air yang diproduksi PDAM Unit Gedangsari ini justru tak pernah keruh atau sampai berwarna kecoklatan sebagaimana yang sering dikeluhkan pelanggan PDAM Gunungkidul di area tengah dan selatan. Setahu Lukas, masalah keruhnya air bersih yang didistribusikan PDAM Gunungkidul di wilayah tengah dan selatan itu karena sistem di wilayah tengah dan selatan tidak atau belum melalui proses penjernihan. Jadi, air yang diambil PDAM setelah menyedot air dari sumur air tanah atau sungai bawah tanah itu memang langsung didistribusikan ke pelanggan.

Bangunan pengambilan air PDAM Unit Gedangsari di Sungai Oya. | KH/Awd.

PDAM Unit Produksi dan Distribusi Gedangsari sendiri, saat ini telah melayani 277 pelanggan di wilayah Gedangsari dan Nglipar. “Dari reservoir utama di unit produksi kami, air dialirkan ke 2 Bak Penampungan, satu di Kenteng dan satunya di Wates. Bak di Kenteng melayani  5 padukuhan, yaitu: Kenteng, Nglaran, Ngalang, Wareng, dan Sendowo (Nglipar). Sedangkan Bak di Water melayani 3 padukuhan, yaitu Sumberejo, Karang, dan Plosodoyong,” ujar Maryoto, pegawai PDAM Unit Gedangsari.

“Untuk wilayah Gedangsari dan Nglipar ini belum ada pelanggan yang mengeluh tentang kualitas air yang kami produksi. Masyarakat sudah bisa menerima dan terbiasa dengan air PDAM yang diolah dari air Sungai Oya. Itu artinya masyarakat percaya dengan kualitas produksi air yang kami hasilkan,” imbuh Lukas.

Selama beroperasi, unit produksi dan distribusi PDAM di Gedangsari ini belum pernah mengalami kendala teknis yang berarti. Produksi yang dijalankan memang tidak berlangsung terus-menerus sepanjang waktu.

Produksi iar di PDAM Unit Gedangsari dilakukan mengikuti volume kebutuhkan pelanggan. Dengan pola produksi dan operasi yang mengikuti kebutuhan pelanggan ini, PDAM Unit Gedangsari menghabiskan biaya untuk lstrik PLN mencapai 3,5 – 4,5 juta per bulan.

“Kami menggunakan sumber daya listrik PLN sebesar 82,5 KVA. Kami juga memiliki genset 80 KVA sebagai cadangan, namun kami berharap tidak ada kendala pasokan listrik dari PLN, sehingga kami dapat terus berhemat listrik,” ujar Lukas.

Menurutnya, biaya produksi dan distribusi air bersih oleh PDAM Gunungkidul itu sangat bergantung kepada sumber daya listrik. Biaya produksi dan distribusi air bersih PDAM Gunungkidul untuk sampai ke pelanggan memang relatif lebih mahal dibandingkan dengan PDAM di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, atau Kabupaten Bantul. Hampir sebagian besar memakai energi listrik mulai dari proses memompa dari sumber air, mengolah, dan mendistribusikannya.

“Belum lagi jarak antar rumah penduduk atau permukiman di Gunungkidul itu memang lebih jauh dibandingkan dengan wilayah seperti di Kota Yogyakarta. Belum lagi selain jaringan pipanya yang lebih panjang, wilayah pelayanan PDAM Gunungkidul itu melewati lembah dan gunung. Itu jelas butuh pompa dan energi listrik yang lebih besar,” ujar Lukas.

PDAM Unit Gedangsari ini memang masih belum melayani kebutuhan air bersih untuk seluruh wilayah Gedangsari. Cakupan pelayanan PDAM nampaknya masih di wilayah selatan Gedangsari dan Nglipar. Saat ini, di wilayah Gedangsari juga telah ada PAMDES atau organisasi pengelolaan air dalam lingkup desa. PAMDES ini mengupayakan pengelaan air bersih dengan menggunakan sumber-sumber air di desa dengan pola mengutamakan keswadayaan warga desa.

Keberadaan PAMDES tersebut dirasa sangat membantu kebutuhan air bersih pada wilayah-wilayah yang belum mampu dijangkau oleh PDAM Gunungkidul. (Andriyani).

Komentar

Komentar