25 Persen Wilayah Gunungkidul Alami Kekeringan

oleh
dropping air yang dilakukan BPBD. foto: istimewa.

GUNUNGKIDUL, (KH),– Saat ini masih ada sekitar 25 persen wilayah di Gunungkidul mengalami kekeringan. Hal terebut disampaikan Bupati Gunungkidul, Badingah, S.Sos pada saat melepas tangki dropping air yang dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul Senin, (4/6/2018).

Berdasarkan data yang ada kekeringan terjadi di Kecamatam Girisubo, Rongkop, Saptosari, Tanjungasari, dan Tepus. Lima kecamatan tersebut masih menjadi wilayah langganan kekeringan karena sebagian atau seluruh wilayahnya belum tersentuh aliran PDAM maupun SPAMDes.

Pada kesempatan siang tadi, lima kecamatan menjadi sasaran dropping air. Dalam kesempatan tersebut Badingah juga menyampaikan, Pemkab Gunungkidul menganggarkan Rp. 638 juta utuk mengatasi masalah air bersih selama musim kemarau.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edi Basuki mengatakan, selain BPBD droping air bersih juga dilakukan oleh masing-masing kecamatan. Setiap hari akan ada 24 trip penyaluran air bersih dengan menggunakan 6 tangki milik BPBD.

“Truk dengan kapasitas 1.000 liter akan mengirimkan air kepada masyarakat sesuai permintaan yang terjadwal,” jelas Edi Basuki.

Berdasarkan data, permintaan air bersih ke BPBD Gunungkidul datang dari 36 desa di 9 kecamatan. Jumlah ini meningkat dari tahun lalu sebanyak 19 desa di 8 kecamatan.

“Peningakatan terjadi karena Kecamatan Saptosari pada tahun ini juga mengajukan permohonan air bersih,” ungkap Edi.

Edi menambahkan, pengambilan air bersih tidak hanya dari Kabupaten Gunungkidul saja. Untuk distribusi wilayah Rongkop pengambilan air dari wilayah Praci, Jawa Tengah. Sedangkan untuk wilayah Tepus air bersih diambil dari daerah Pantai Krakal. (Wibowo)

Komentar

Komentar