10 Tahun Mencari Belalang, Mulyono: Dari Musim Ke Musim Jumlahnya Menurun

oleh
Belalang dijual di pinggir jalan Paliyan-Saptosari, tepatnya di kawasan Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) TNI, Paliyan. KH/ Kandar.

GUNUNGKIDUL, (KH),– Setidaknya dimulai lebih dari 5 tahunan lalu belalang menjadi olahan makanan favorit bernilai tinggi. Menjadi olahan makanan yang sangat digemari membuat perburuan belalang terus-menerus dilakukan.

Perburuan dilakukan demi menyuplai industri rumahan pengolah belalang yang mengemasnya menjadi oleh-oleh khas dari Gunungkidul. Bahkan karena tingginya permintaan, para pengolah dalam skala banyak mendatangkan belalang mentah dari luar Gunungkidul. Hasil tangkapan belalang di Gunungkidul tidak mencukupi tingginya permintaan.

Hasil buruan belalang selain dibeli para pengolah, para pencari juga menjajakan langsung belalang mentah kepada konsumen. Para pencari biasanya menjajakannya di pinggir-pinggir jalan.

Salah satu warga yang berprofesi sebagai pencari belalang, Mulyono (41), Kamis, (24/5/2018) kemarin saat ditemui KH mengakui bahwa jumlah populasi belalang dari waktu ke waktu semakin menurun. Warga Padukuhan Bulureja, Desa Kepek Kecamatan Saptosari ini sudah cukup berpengalaman memperhatikan siklus atau musim belalang. Sebab, dirinya telah menjalani profesi sebagai pencari belalang sejak 10 tahunan yang lalu.

Dirinya mengungkapkan, jauh sebelum dirinya menekuni profesi itu, belalang cukup mudah ditemui di sekitar ladang atau pekarangannya tinggal. Kondisi tersebut berlangsung sekitar tahun 1990-an.

“Kalau saat ini di sekitar kebun dekat rumah meski waktunya musim belalang tetap saja sulit dijumpai. Kalaupun ada sangat sedikit,” katanya saat ditemui sedang menjual belalang di pinggir jalan Paliyan-Saptosari, tepatnya di kawasan Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) TNI, Paliyan.

Dalam menjalani kegiatannya mencari belalang, dirinya sudah hafal daerah mana yang pertama akan dituju ketika musim belalang datang. Mulyono akan mulai mencari saat tanaman jagung mulai berbuah. Dirinya bersama rombongan pencari yang lain akan berpindah tempat jika di lokasi pertama jumlahnya semakin sedikit.

“Saat mulai musim belalang, pertama mencari di kawasan sebelah utara Pantai Drini, lalu pindah di kawasan hutan di Kecamatan Paliyan. Hingga kemudian menyisir memasuki Kecamatan Playen,” paparnya.

Ketika di wilayah-wilayah tersebut benar-benar menipis maka pencarian dilakukan ke luar Gunungkidul. Mulyono bersama belasan temannya akan mencari di sebelah utara Pantai Parang Tritis, Bantul. lalu bergerak ke arah barat, di sekitar Pantai Depok dan Samas.

Menurutnya, di wilayah-wilayah yang menjadi incaran untuk mencari belalang, dari tahun ke tahun jumlah belalang semakin sedikit. Hal tersebut dirasakan dengan semakin sulitnya belalang ditemukan. Hal lain yang dirasakan, durasi musim belalang juga tidak selama seperti 10 tahunan yang lalu.

“Rata-rata jenis Belalang Kayu. Kebanyakan hinggap di pohon jati. Saat awal musim belalang biasanya ada di tanaman-tanaman palawija,” terangnya.

Mulyono berharap, belalang akan selalu ada hingga diwaktu-waktu mendatang. Sebab, mencari belalang seolah telah menjadi pekerjaan pokok baginya. Jika belalang yang diburu dalam satu musim benar-benar habis ia baru mencari pekerjaan serabutan, sembari menunggu musim belalang berikutnya. (Kandar)

Komentar

Komentar